Social Icons

Senin, 28 April 2014

Ketika Kata Berlarian

(Menilik proses kreatif "Wanita di Lautan Sunyi"-nya Nurul Asmayani)
____
 
“Buntu! Bingung mau nulis apa!”
Wah, kalau kalimat itu diungkapkan oleh para penulis, benar-benar masalah besar.

Jika diibaratkan penulis adalah seorang tentara, maka kata-kata adalah senjatanya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika tentara kehilangan senjata? Dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk menjalankan tugasnya. Heuheu.

Pernah mengalami?

Saya pernah. Sering bahkan :(

Dulu, kalau saya terserang “penyakit” ini, ya sudah … saya berhenti dulu menulis. Percuma saja memaksakan diri. Tapi, bagaimana kalau tulisan itu harus segera selesai dalam jangka waktu tertentu. Ada tenggat waktu yang ketat. Saya harus benar-benar “memaksa” otak, menelisik kata yang sedang bersembunyi, entah di mana.

Salah satu yang biasanya saya lakukan ketika mengalami kebuntuan itu adalah membaca. Membaca apa saja. Saya mengambil salah satu buku di rak buku, secara acak. Lalu membuka halaman-halamannya secara acak juga. Halaman berapa pun yang terbuka, halaman itulah yang harus saya baca.

Dan … keajaiban terjadi.

Saat itu, saya baru saja akan memulai menulis novel “Wanita di Lautan Sunyi.” Plot dan alur sudah saya susun rapi. Begitu juga karakter tokoh, setting, konflik dan seterusnya. Semua unsur intrinsik yang harus ada dalam sebuah novel sudah saya rancang. Tapi … saya belum bisa menulis juga. Bingung, mau mulai dari mana? Kalimat apa yang harus saya tuliskan sebagai pembuka? *garuk-garuk kepala*

Secara acak, tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hitam, judulnya “Atlas Sejarah Nabi Muhammad saw. dan Khulafaur Rasyidin.” Kebetulan, tangan saya memang menjangkau bagian rak buku yang berisi buku-buku sejarah semuanya. Saya kaget juga, kenapa buku ini yang saya ambil? Apa hubungannya antara novel yang akan saya tulis dengan sejarah? Tapi, ya … saya memang enggak boleh milih. Aturan itu kan saya sendiri yang membuat. :p
 Cover buku Atlas Sejarah dan Novel saya "Wanita di Lautan Sunyi"

Saya buka halamannya secara acak, dan terbukalah halaman 36-37.  Saya baca terus, hingga sampai di paragraf kedua, halaman 37. Di sana tertulis sebuah peribahasa Arab yang berbunyi:

“Inkunta riihan faqad laa qaita i`shaaran.”

“Jika dirimu adalah angin, boleh jadi engkau akan bertemu badai.”
Ini isi halaman 37, paragraf ke-2.


Dzing! #$%

Seolah-olah ada embusan angin yang meniup tengkuk saya. Saya merinding. Memori akan Sangkulirang yang berada di tepi laut membayang cepat. *FYI, Sangkulirang adalah tempat yang saya jadikan setting novel “Wanita di Lautan Sunyi.* 
Otak saya sepertinya langsung bekerja cepat, berbagai peristiwa di dalam calon novel saya membayang-bayang di depan mata. Sang tokoh akan mengalami ini dan itu. Lalu si ini begitu, dan seterusnya.

Gegas saya duduk di meja kerja dan membuka laptop. Saya sudah menemukan “AHA!” saya.

Harus segera ditulis, sebelum kilatan-kilatan itu padam dan saya kehilangan. Alhamdulillah, kalimat pembuka sudah saya dapatkan dan Allah membuat jemari saya lancar menari di atas tombol-tombol huruf di laptop.

Apakah ini kebetulan? Izinkan saya memaknai ini sebagai bentuk pertolongan Allah. Ilham dan petunjuk-Nya. Saya yakin, tak ada yang kebetulan di dunia.

 Peribahasa Arab tadi saya jadikan pembuka di bab satu
Apakah saya pernah “gagal”? Tetap mengalami kebuntuan menulis padahal sudah melakukan cara ini? Mengambil buku, membuka halaman secara acak, lalu membacanya. Tetapi, “AHA!” itu tidak juga saya temukan. Oh, pernah juga. Pernah. Tetapi, setidak-tidaknya saya tetap dapat pengetahuan baru dari apa yang saya baca. Jadi, tetap tak ada yang sia-sia, kan. Teuteup, hahaha  ;)

 
Ah, kalau penasaran. Ayo dicoba saja. Siapa tahu teman-teman juga bisa merasakan “sensasi indah” ketika menemukan “AHA!” ini. Masya Allah. Merinding disko, ruar biasa! 

"Wanita di Lautan Sunyi"
Penerbit: Quanta-imprint Elex Media Komputindo
Harga: Rp54.800
Beredar April 2014
Beli ya  ;) 
 ______________
sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/2014/04/ketika-kata-berlarian.html

Minggu, 27 April 2014

Manfaat Mendongeng Bagi Anak


Oleh Rindang Yuliani (Pengurus FLP Banjarbaru)

sumber : internet

Subhanallah, kata itulah yang pertama kali terlontar ketika saya tidak sengaja menyimak materi yang disampaikan Mbak Nurul Asmayani dalam Talkshow Parenting yang bertema Manfaat Mendongeng dalam Pembentukan Karakter Anak. Beliau menjelaskan ada 12 manfaat mendongeng bagi pendidikan anak, yaitu:

1. Meningkatkan keterampilan komunikasi pada anak
2. Mengembangkan kemampuan berbahasa anak
3. Meningkatkan minat membaca pada anak
4. Mengembangkan keterampilan berpikir anak
5. Meningkatkan keterampilan memecahkan masalah
6. Merangsang imajinasi dan kreativitas anak
7. Mengembangkan emosi anak
8. Memperkenalkan nilai-nilai moral pada anak
9. Memperkenalkan ide-ide baru pada anak
10. Mengetahui budaya dari tempat lain
11. Relaksasi
12. Mempererat ikatan emosi anak dengan orang tua

Subhanallah, sekali lagi saya terkagum-kagum. Bagaimana tidak, dongeng yang terlihat sepele ternyata punya banyak manfaat seperti yang tersebut di atas. Lebih jauh, ternyata mendongeng mempunyai pengaruh terhadap perkembangan sebuah bangsa. Dalam penelitian seorang ahli (lupa namanya) di dua negara, Inggris dan Spanyol (kalau tidak salah ingat) membuktikan bahwa cerita-cerita dalam dongeng yang diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya dapat memicu semangat kemajuan yang berbeda pada kedua negara tersebut. Pada negara Inggris, dalam kurun waktu 25 tahun negara Inggris berkembang menjadi sebuah negara yang maju dengan pesat dengan tokoh utama di pemerintahan adalah anak-anak yang didongengi dengan dongeng yang berisi semangat maju dan berusaha oleh ibunya. Sedangkan di negara Spanyol, kemajuannya cenderung lambat akibat isi dongeng yang tidak berisi semangat memajukan diri. Banyak dongeng yang diteliti sendiri mencapai ratusan buah, jadi tidak hanya merujuk pada satu dongeng. Seharusnya sih ya, si ahli tersebut juga meneliti ke negara Indonesia. Dalam kurun waktu 25 tahun, anak-anak yang diceritakan dongeng tentang si kancil, apakah benar itu yang menyebabkan para pemimpin-pemimpin kita banyak yang korupsi? Mencontoh tingkah si kancil dalam dongengnya yang licik, hehe. Atau fenomena ibu tiri yang jahat, apakah mungkin berasal dari dongeng terkenal di Indonesia yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih? Jawabannya, mungkin saja.

Saya sendiri juga mengalami fase didongengi tentang kancil dkk. Yang paling saya ingat sih, cerita tentang kura-kura dan kera. Mau tahu ceritanya? Hehe. Dulu itu, mama yang sering mendongeng ketika saya dan adik susah diajak tidur pada waktu siang hari. Tidak terlalu sering juga sih, selebihnya cerita dongeng-dongeng lain saya ketahui dari buku bacaan.

sumber : internet
Bersyukur sekali saya hari ini bisa menghadiri acara yang sebelumnya saya pikir hanya cocok untuk mama-mama ini. Terbersit dalam pikiran saya untuk mendongengkan dongeng-dongeng yang membangun karakter untuk anak-anak saya kelak. Dalam waktu dekat, sasaran yang paling empuk adalah Maya, seorang sepupu saya yang berusia hampir empat tahun. Anaknya sangat menggemaskan dan cerdas. Hanya saja mamanya, my auntie, sering sibuk dengan pekerjaan beliau sbg PNS, jadinya Maya sering ditinggal-tinggal. Biasanya sih kalau saya sedang libur, Maya senang nginap di rumah saya. Waktu itulah saya biasanya memasukkan nilai-nilai edukatif ke Maya, salah satunya dengan dongeng. Mumpung lagi ada Book Fair juga nih di Banjarbaru, mau hunting buku dongeng untuk investasi. Hehe. Semoga ya, para ibu-ibu yang punya anak kecil segera sadar tentang pentingnya mendongeng bagi anak selain memenuhi kebutuhan materi (pakaian, susu, mainan, dll) si anak.



____________________
disadur dari : https://www.facebook.com/notes/rindang-yuliani/manfaat-mendongeng-bagi-anak/10152183231224573

Jumat, 25 April 2014

[Resensi] Ya Allah, Beri Aku Satu Saja...


cover buku "Ya Allah Beri Aku Satu Saja..."
Tidak disangka, pada saat kehidupan pernikahanku dengan suami di dalam kepurukan, Tuhan memberikan karunia yang 11 tahun sudah aku idam-idamkan. Aku dinyatakan positif hamil 10 minggu oleh dokter. Tuhan, aku memang merindukan kehadiran buah cintaku dengan suami, tapi kenapa harus Kau berikan karunia itu di saat hidupku hancur? Di kala suamiku sedang menjalani dua tahun masa kurungan di penjara.  

Penulis: Pipit Setiafitri

Hasil Laparoskopi menunjukkan bahwa aku terkena tumor ovarium. Aku syok dengan diagnosis dokter tersebut, apalagi selama ini aku tak mendapati gangguan siklus haid. Dokter menjelaskan bahwa tumor di ovarium ini neoplastik yang tak ganas, jadi memerlukan tindakan pengangkatan tumor.

Aku pasrah saja dengan keputusan dokter, karena yang ada dalam benakku adalah keinginan untuk bisa punya anak lagi. Suamiku mendukung keputusanku.

Tibalah saatnya operasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Suamiku tampak cemas, namun dialah yang mengurusi semua perlengkapan dan kebutuhanku. Kutahu ia masih mencintaiku, hanya saja mungkin ia pernah khilaf karena keputusasaannya untuk bisa mendapatkan anak lagi dariku.

Penulis: Viana Akbari


Tulisan-tulisan di atas merupakan salah satu kisah nyata dari buku “Ya Allah, Beri Aku Satu Saja.. Tutur Jujur Para Pendamba Momongan”. Buku yang berkisah tentang pengalaman suka duka, menunggu hadirnya buah hati dalam sebuah pernikahan.

Buku yang ditulis oleh 20 orang penulis wanita ini, dijamin akan menguras emosi dan air mata. Pembaca pun akan ikut larut dalam serangkaian kisah jujur yang kami tuturkan. Dilengkapi dengan ulasan medis dari setiap permasalahan yang ada dalam setiap kisahnya.

Semoga buku ini kelak akan memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembacanya. Karena buku ini dipersembahkan bagi pasangan yang masih menanti kehadiran buah hati. Harapan itu selalu ada pada setiap ikhtiar yang kita upayakan. Juga, untuk para orang tua yang telah merajut cinta bersama buah hatinya. Bersyukurlah, amanah itu kini sudah berada di dalam buaian.

Buku ini memberikan pemahaman pada kita, bahwa Allah mengabulkan doa dan harapan, selalu pada saat yang tepat. Saat seluruh upaya telah dikerahkan. Saat kita sebagai manusia berada pada titik maksimal kepasrahan pada Allah SWT. Saat tak ada lagi kekuatan yang kita harapkan, selain kekuatan dan kekuasaan-Nya.
 _______________________________________
Resensi ini diterbitkan di salah satu rubrik Republika.co.id , kerjasama dengan komunitas penulis perempuan Women Script & Co.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/women-script-co/12/04/19/m2q2qu-resensi-buku-antologi-menanti-buah-hati

Rabu, 23 April 2014

[TIPS] Membangun Karakter Tokoh Yang Kuat

Biasanya sebuah cerita akan tinggal lama dalam memori pembacanya menurut saya  karena dua hal:
Pertama, konflik yang dibangun dalam cerita tersebut membuat pembaca terkesan.
Kedua, karena karakter tokoh yang ditampilkan oleh penulis sangat kuat dan nyata. Seolah-olah pembaca bisa melihat nyata tokoh yang ada dalam cerita tersebut.
Saya melihat contoh karakter yang kuat dalam novel-novel Mba Sinta Yudisia, Mba Ifa Avianty dan Tere Liye.

Ah, mungkin masih banyak contoh yang lain ya. Referensi saya tentu sangat terbatas.

Lalu, bagaimana membangun karakter yang kuat dalam sebuah cerita?
Bagaimana agar tokoh yang kita tulis tidak terkesan tempelan semata. Setidaknya ada beberapa cara yang biasanya saya gunakan:


1. Saya akan membayangkan berbagai karakter yang ada di sekitar saya. Mengambilnya beberapa, mencari yang cocok untuk saya tuliskan. Dengan cara ini, pembaca akan bisa merasakan pula bahwa tokoh itu nyata adanya.


2. Saya akan menuliskan sebuah daftar berisi hal-hal spesifik tentang  tokoh itu. Misal, si Alina (anggap saja namanya begitu ya), adalah gadis berprestasi, perfeksionis, cenderung suka menyendiri. Suka melamun dan berkhayal, tak suka pesta, suka warna biru, suka membaca cerita roman, dan seterusnya. Ciri fisik: tinggi/berat, rambut panjang, kulit putih, ada tahi lalat di pipi kanan, dan seterusnya.


3. Untuk menulis novel, agar karakter itu semakin melekat kuat, saya akan mencari gambaran fisik yang cocok dengan karakter yang saya inginkan. Tujuannya agar bayangan tokoh itu benar-benar melekat kuat dalam bayangan saya. Seperti ini contohnya:



Sumber gambar: ac2m.com

Kalo gambaran tokohnya seperti ini, kira-kira bagaimana karakternya menurutmu?
Selamat mencoba ya. Sekali lagi, ini kiat ala saya. Bisa berhasil untuk orang lain, namun bisa juga tidak :) 







 Disadur dari : http://nurulasmayani.blogspot.com/2011/06/membangun-karakter-tokoh-yang-kuat.html 

Selasa, 15 April 2014

[TIPS] Nikmati Saja Prosesmu

Menjadi penulis itu perlu "proses". Bukan sesuatu yang instan. Voila! Langsung jadi.

Kita tidur, mimpi menulis buku best seller, lalu waktu bangun bisa langsung menulis. Maka, jadilah kita penulis.

Eh, adakah yang seperti itu?

Pada awalnya, mungkin karena kita suka sekali membaca. Membaca apa saja. Membaca buku, majalah, surat kabar bekas, potongan tulisan bekas bungkus cabe, papan iklan di jalan *itu sih saya :p Hahaha*

Lalu, muncul keinginan untuk menulis. Kayaknya asyik kalau saya jadi penulis dan tulisan saya dibaca orang lain.

Mungkin berawal dari menulis di lembaran paling belakang buku tulis, menulis diary, teruuuus.

Lalu, mulailah kita membuat tulisan pendek--cerpen atau puisi. Kemudian terus meningkat dan berlanjut.

Hingga pada akhirnya, kita mengenali "suara kita" dalam tulisan itu. Ya, kita telah menemukan ciri khas kita.

Setelah itu, mungkin kita masih memerlukan waktu beberapa tahun lagi untuk teruuuus berproses menjadi penulis. Mencoba lalu gagal! Mencoba lagi dan mendapatkan penolakan!

Pahit? Ya! Kapok? Tentu tidak! Ah, semoga saja tidak.

Jadi, kalau saat ini kita merasa proses itu masih jauuuuh. Saya katakan, proses itu tidak akan pernah ada ujungnya. Seorang penulis yang baik adalah seorang pembelajar sejati.

Dia harus terus belajar dari pengalaman--diri sendiri maupun orang lain. Belajar dari bacaannya. Belajar dari mana saja.

Kalau saat ini tembok kegagalan dan kejenuhan yang kita temukan. Maka, percayalah di balik tembok itu ada keberhasilan dan kesenangan yang akan kita dapatkan.

Tetapi, pilihan ada di tangan kita. Mau terus berjalan, atau berhenti?

Panjang sekali yak tulisan saya?
Padahal saya hanya ingin mengatakan, nikmati saja prosesmu.
 
Salam semangat!

sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/2014/04/nikmati-saja-prosesmu.html 

Sabtu, 12 April 2014

Jejak Yang Tertinggal

Sebuah Proses Kreatif Nurul Asmayani

Menulis adalah aktivitas yang selalu lekat dalam kehidupan saya. Saya menulis apa pun, di mana pun, namun lebih banyak saya nikmati dan baca sendiri. Lalu, mulai kurun 2002 hingga 2003 saya baru berani mempublikasikan karya saya untuk dinikmati orang lain. Saya mengirimkan beberapa cerita pendek yang saya tulis ke sebuah majalah remaja Islami, "Annida". Beberapa ditolak, beberapa lolos dan terbit. Terakhir, sebuah cerita pendek saya menjadi kisah utama di majalah tersebut. Cerita berlatar belakang suasana Aceh, yang saya beri judul "Membunuh Malam".

Pertengahan 2004, saya menjadi ibu. Anak sulung saya lahir, dan saya benar-benar konsentrasi mengurus anak dan rumah. Saya berhenti mengirim tulisan ke majalah. Meskipun desakan itu kadang menggoda saya.
Tahun 2005 sebuah kesempatan lomba menulis novel datang. Saya tak sanggup menampik godaan itu. Maka, mulailah saya mengobrak-abrik buku diary dan block note saya yang berisi plot novel. Membongkar beberapa catatan kecil tentang apa yang ingin saya tulis. Serta beberapa buku lama yang sudah lecek karena bolak-balik saya baca dan bawa tidur :p

Akhirnya, lahirlah sebuah novel dengan setting Batavia di tahun 1920-an. Tentang perjuangan seorang muslimah mempertahankan keyakinannya. Alhamdulillah, novel itu berhasil menjadi juara kedua (juara satu tidak ada) di sebuah penerbit Islam, tahun 2005. Sekali saya diminta mengedit, namun akhirnya urung diterbitkan. Saya mengerti, mungkin menerbitkan novel dengan tema semacam itu tak menarik dan tak menjual. Novel sejarah dengan tema yang sedikit sensitif. Heu...

Dan, waktu terus berlari meninggalkan saya. Saya melahirkan anak kedua, asyik menikmati zona nyaman saya. Sesekali saya masih menulis cerpen, terkadang puisi. Membaca buku, mencatat ide dan beberapa hal penting di diary dan block note. Masih seperti dulu. Namun saya tak lagi mengirimkan karya ke media.
Terkadang, muncul kerinduan untuk menerbitkan karya lagi. Tapi, desakan itu terkalahkan oleh kesibukan lain di depan mata yang seakan tak ada habisnya.

Lalu, tahun 2009 saya punya facebook. Dan...saya terkesiap! Oh, ke mana saja saya?
Lihatlah, semua orang seakan berlari. Mereka yang terus berproses semakin melesat dan sudah berada di depan. Sementara saya, jauuuuuh tertinggal *nunjuk hidung sendiri*. Semuanya melecut saya. Saya menyadari saya mencintai menulis, tapi saya belum menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari diri saya.

Tahun 2009 itu saya berjumpa dengan mba Ifa Avianty dan teman-teman sekelas di IWS (Hai Fitri, Yanti, Teh Vienna, Mba Ade, Irma, Bu Yani, Danu-satu-satunya makhluk cowok di kelas, Luluk, Genny, Aisy, Teh Anne, dan IWS-ers lainnya). Semua melecut saya untuk belajar lagi menulis. Terseok-seok, terpeleset dan jatuh berkai-kali.

Tahun 2010 novel saya selesai ditulis atas bimbingan dan support ibu guru yang luar biasa. Saya memberanikan diri mengirim ke sebuah penerbit. Hasilnya sukses ditolak. Hahaha :))

Di tahun 2010 juga saya kecanduan ikut semua lomba dan audisi antologi. Lomba buku gratisan di penerbit saya jadikan ajang mempelajari buku yang diterbitkan penerbit tersebut. Lomba resensi, lomba tag foto hingga lomba menulis kisah inspirasi. Menang beberapa, kalah banyak banget. Lolos audisi ada, gagal huhu bejibun. Semuanya saya nikmati, sebagai sarana belajar bagi tubuh dan mental saya.

Saya tahu, jam biologis tubuh saya harus dibiasakan dan dibangun pelan-pelan. Jika siang saya harus mengurus anak dan rumah (saya ibu 3 anak kecil, tanpa pernah mempunyai ART), jauh dari keluarga dan siapa pun yang diharapkan bisa membantu pekerjaan domestik. Maka, waktu menulis saya hanya malam hari. Saat pekerjaan rumah sudah selesai, anak-anak sudah tidur. Tahun 2010 benar-benar tahun pembelajaran. (Curhat saya ada di sini nih :p  http://www.facebook.com/note.php?note_id=402677528880 )

Hasilnya beberapa antologi saya terbit. Alhamdulillah. Dan, menjelang tutup tahun 2010 sebuah proposal saya diterima sebuah penerbit yang saya impikan. Calon buku saya diterbitkan oleh B First (imprintnya Bentang Pustaka). Allah mengabulkan doa dan mimpi saya. Akhir tahun saya mengantongi 1 SPP buku solo. Sesuatu banget, mengingat siapa sih saya ini?

Pengerjaan buku solo pertama ini juga benar-benar penuh kenangan. Saya hanya diberi waktu 22 hari. Maka malam-malam saya terisi dengan begadang dan begadang. Alhamdulillah, tubuh saya sudah terbiasa begadang saat mengejar DL lomba dan antologi bulan-bulan sebelumnya.

Saat  Ramadhan 2010 saya harus pulang ke Indonesia, kepala saya masih dipenuhi dengan agenda penyelesaian buku ini. Ketika rumah kecil saya dipenuhi keluarga yang datang menginap (23 orang dewasa dan anak-anak. Whoaaa), saya harus betul-betul bergerilya. Saat semua lelap di mana-mana. Di kamar, di ruang tamu, di ruang tengah (kecuali dapur kecil), mengendap saya menyalakan laptop dan duduk. Hanya berteman cahaya remang dari lampu dapur saya menulis. Baru saja menyalakan lampu, saya ditimpuk bantal. "Oy, silau!". Jiahhh, jadilah buku ini saya selesaikan dalam kegelapan.Hahaha

Alhamdulillah, deadline berhasil saya kejar. Tepat waktu.

Februari 2011, beberapa hari sebelum saya kembali ke Jepang. Buku solo saya "Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang" diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya. Editor saya tercinta bahkan menyempatkan hadir ke Banjarbaru, tempat tinggal saya.


Jika 2010 adalah tahun pembelajaran. Maka, tahun 2011 adalah tahun membangun pondasi bagi saya.
Tahun 2011 saya tak lagi ikut lomba-lomba menulis yang banyak bertebaran di facebook. Dengan sedikit waktu untuk menulis yang saya miliki, maka saya harus punya prioritas dan fokus. Di tahun ini, sebuah outline saya diterima untuk proyek pengadaan buku pemerintah (proyek DAK). Buku berseri tentang character building, 5 buah buku. Alhamdulillah. Sujud syukur dan gemetar saya saat itu. Lima buku sekaligus? Allahu Akbar!

Pada titik inilah, saya bertemu dengan Teh Indari Mastuti. Seorang bunda serba bisa yang selalu menebarkan semangat. Di tengah pengerjaan 5 buku itu, Jepang diguncang gempa besar berkekuatan 9 magnitudo. Masya Allah! Disusul meledaknya PLTN di Fukushima. Belasan gempa susulan mengguncang kami dalam sehari. Tidur tak pernah nyenyak. Ditambah, air keran tak bisa dikonsumsi karena tercemar. Siang hari setelah gempa besar itu kami lalui dengan aktivitas mengantri di supa. Membeli air mineral dan beberapa makanan instan sebagai persiapan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Editor yang akan menerbitkan buku character building tersebut mengirim email ke saya. Mengirimkan doa dan semangat. Makasih Mba. Sangat berarti bagi saya. Namun, email itu kemudian saya balas dengan permohonan maaf. Saya ingin mengundurkan diri dari pengerjaan buku ini. Saat bumi Jepang masih bergoyang, putri kedua saya sakit. Pencernaannya terserang virus, muntah dan diare berat. Saya tak bisa konsentrasi mengerjakan buku, dalam kondisi anak sakit dan gempa susulan yang masih terus berlanjut.

Pengunduran diri saya diterima. Namun, beberapa hari kemudian saya menerima email lagi yang menyatakan konsorsium penerbitnya meminta buku ini diteruskan. Deadline diperpanjang. Dengan bismilllah, akhirnya saya terima. Namun, di saat yang sama saya terserang virus seperti yang menyerang anak saya. Diare berat, muntah, dan sangat lemas. Tapi saya sudah menyanggupi, dan tak mungkin menyatakan mundur lagi.
Pelan, buku itu saya selesaikan. Pengalaman pertama menyelesaikan lima buah buku dalam satu bulan. Ya Allah, nggak kebayang sebelumnya. Saat itu pula saya dapat kesempatan menimba ilmu pada editor yang baik hati dan tak pernah pelit membagi ilmu. Mba Anna Farida *wink wink ke Mba Anna* Meskipun kadang komen Mba Anna menguliti saya *lebay :p* Tapi saya senang. Kekurangan tulisan saya dibedah dan dikomen habis-habisan. Uhuy deh rasanya. Mengerjakan buku terakhir, kami begadang bersama sambil chatting di YM biar tidak mengantuk. Beliau mengedit, saya meneruskan menulis dengan sisa nafas. Heu...Selalu saya kenang loh Mba. Ingat komennya Mba Anna waktu itu. "Gila yah!" Satu buku lagi, dan waktu yang tersisa hanya beberapa hari. Alhamdulillah, kita bisa ya Mba Anna.

Bulan-bulan berikutnya, saya masih belum bisa fokus 100 % Masih seliweran dengan sisa-sisa pekerjaan di antologi. Hingga tujuh antologi lagi terbit. Pertama antologi Magnitudo 9. Tantang pengalaman kami saat gempa dan tsunami. Kedua, antologi Killer, Nyentrik tapi Asyik. Antologi yang audisinya diadakan tahun 2010. Mengalami dua kali penolakan hingga terbit di Grafindo. Dari antologi ini saya bertemu penulis yang kereeen. Mba Triani Retno yang banyak memberikan ilmu dan tips berharga. Teh Tita, Uni Dian, Lea, Mba Anney, Mba Ochi, Mpok Manda, Nisa, Zoel, dan semuaaaa. Tak ketinggalan kru Grafindo dan Salam Book House yang ramah dan luar biasa.



Ketiga, antologi Semiliar Cinta untuk Ayah yang PJnya Mba Ochi. Keempat, antologi FF Selaksa Makna Ramadhan, dari momen UNSA dan Mas Adi Tiga Tujuh. Kelima, antologi Storycake for Ramadhan yang digawangi oleh Mba Lygia dan IIDN. Keenam,antologi Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri, dikomandani Mba Qonita Musa dan Ayuk Naqiyyah Syam. Alhamdulillah best seller di beberapa Gramedia, beberapa kali diresensi di majalah. Terakhir, antologi "Ya Allah Beri Aku Satu Saja" menutup tahun 2011 dengan manis.


Masih ada beberapa antologi yang saya menjadi PJ masih terus saya perjuangkan insya Allah. Beberapa antologi yang tulisan saya ikut lolos di dalamnya, juga masih menunggu berjodoh dengan penerbit.

Memasuki tengah kedua tahun 2011 saya mulai fokus lagi. Mulai menabung tulisan, menabung proposal, menabung ide. Saya berhasil menyelesaikan 2 buah kisah kepahlawanan untuk anak, pesanan sebuah penerbit besar (lewat agency). Membongkar buku dan referensi yang terkadang bahasanya tidak saya mengerti (terpaksa mengandalkan google translate :p). Alhamdulillah, saya juga dapat kesempatan menimba ilmu di kelasnya Kang Ali Muakhir. Bertemu dengan teman-teman sekelas yang lucu dan hebat semua. Mba Ayu, Mba Indah, Mba Era, adinda Gesang, semuaaa. Dapat kesempatan juga mengeroyok seri kamus Indonesia di IIDN. Saya menyumbang tulisan kecil untuk memperkenalkan pantai di Kalimantan Selatan dan sasirangan.

Alhamdulillah, memasuki November 2011, 4 proposal naskah saya diterima oleh sebuah penerbit besar (lewat agency naskah).Novel berlatar sejarah Jepang berhasil saya selesaikan, pertama kali menyelesaikan sebuah teenlit (keduanya masih saya endapkan dan insya Allah akan segera saya edit).
Dan satu proposal naskah yang saya tawarkan sendiri di sebuah penerbit besar juga diterima. Alhamdulillah. Gemuruh rasa syukur saya. "Ya Allah, nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan?"
Saya bertemu dengan orang-orang luar biasa sepanjang tahun-tahun lalu. Yang memberikan banyak hal berharga, ilmu, persaudaraan, semangat, cinta. Terima kasih semua, yang telah mengantarkan saya hingga sampai di titik ini.

Itulah jejak yang sudah saya tinggalkan di tahun-tahun lalu.
Insya Allah, terus berusaha dan berdoa agar Allah berikan kesempatan dan kemampuan untuk semakin baik di tahun berikutnya. Aamiin.

Sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/search/label/Catatan

Jumat, 11 April 2014

[TIPS] Tentang Seting

Seting adalah sebuah tempat atau suatu masa tertentu, dimana sebuah kisah terjadi. Misalnya, saat ini saya berada di Jepang. Maka setingnya adalah Jepang, 2011. Kita bisa mengatakan itu dengan gamblang dan singkat. Namun, ada baiknya seting itu kita tunjukkan pada pembaca. Show don't tell. Menjadi begini, misalnya. Sakura sudah usai berbunga. Kini bunga itu berserakan, melayang riang dicandai angin. Dramatis. Dari uraian ini, pembaca bisa menyimpulkan bahwa tokoh sedang berada di negeri sakura.
    
 Apakah seting itu penting dalam sebuah tulisan?
 Ayo, siapa yang mengatakan seting tidak penting?
     
Secara sederhana, pentingnya seting bisa diungkapkan dalam rumus :  
Seting = Tokoh = Plot
Dari tempat, terbentuklah tokoh, dari motif yang dimiliki tokoh bisa muncul sebuah plot.
     
Jadi...sudah menentukan seting cerita dalam tulisanmu?
  Anggaplah kastil ini menjadi seting tulisanmu
Tulisan seperti apa yang akan lahir dari seting ini? 
Coba yuk...

Rabu, 09 April 2014

[TIPS] Sumber Ide untuk Menulis

Dari manakah ide sebuah tulisan itu datang? Mungkin masing-masing penulis mempunyai jawaban yang berbeda. Namun, sebagian besar penulis ternama menyimpulkan, sumber terbaik sebuah tulisan adalah pengalaman. Pengalaman di sini tidak harus selalu pengalaman pribadi. Kita juga bisa mengambilnya dari pengalaman orang lain.
Nikolai Gogol ketika menulis karyanya yang terkenal "Overcoat", menuliskan kisah ini berdasarkan sebuah lelucon yang didengarnya pada sebuah jamuan makan malam. Tentang pengalaman seorang lelaki yang sudah bertahun-tahun menabung untuk membeli senjata. Ketika senjata itu berhasil dibeli, langsung hilang dicuri orang. 
Hmm...sesuatu yang sederhana ya. Karena itu, seorang yang punya keinginan menjadi penulis, WAJIB merekam seluruh pengalaman dan pengetahuannya. Tulis apa yang didengar, dirasakan, dialami. Siapa tahu, suatu saat rekaman catatan itu kita perlukan saat menulis sebuah karya.
Pengalaman itu darimana saja asalnya? 
  1. Yuk, coba gali dari masa kecil. Nah, ini contohnya banyak kan? Misal pengalaman Andrea Hirata di masa kecil menjadi Tetralogi Laskar Pelangi. 
  2. Carilah dari sejarah kehidupan masa lalu.  
  3. Carilah dari buku atau bahan bacaan yang kita baca. Karena itu, seorang penulis haruslah menjadi orang yang gila membaca apa saja, selagi itu bermanfaat dan membawa pengetahuan baru.
Nah...yuk berlatih sama-sama. Sekarang nggak boleh lagi ada alasan mati ide :)

Menemukan ide baru, ketika melihat foto ini? 
Yuk...silahkan ditulis
    

Selasa, 01 April 2014

Serial Motivasi Menulis : Belajar dari Stephen King



Pernah mendengar nama Stephen King? Tentu nama ini tak asing lagi dalam dunia penulis.

Stephen Edwin King, nama lengkapnya. Dilahirkan di sebuah kota kecil Portland, Maine, tahun 1947. Ia adalah anak kedua dari pasangan Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Kedua orang tuanya bercerai saat Stephen King masih balita. Ia dan kakaknya David dibesarkan oleh ibunya. Masa susah mereka alami, ibunya bekerja keras untuk menghidupi kedua putranya.

Saat Stephen berusia 11 tahun, mereka kembali ke kampung halaman ibunya di Durham, Maine. Nenek dan kakeknya, Guy dan Nellie Pillsbury sudah tua dan memerlukan perawatan, Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun oleh keluarga ibunya. Setelah kakek dan neneknya wafat, ibunya Ruth bekerja sebagai tukang masak.

Stephen mulai aktif menulis sejak kuliah. Ia mengisi kolom mingguan di surat kabar kampus, The Maine Campus. Lulus dari University of Maine di Orono tahun 1970, sebagai sarjana bahasa Inggris. Sebetulnya, dengan ijazah itu, ia berhak mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Sayangnya, saat pemeriksaan kesehatan selepas wisuda menunjukkan Stephen King mengidap tekanan darah tinggi, keterbatasan penglihatan, kaki yang sedikit cacat dan gendang telinga yang pecah.

Kehidupan Stephen King jauh dari berkecukupan. Meskipun seorang sarjana, ia banting tulang menghidupi istrinya, Tabitha Spruce yang dinikahinya bulan Januari 1971. Stephen bekerja sebagai buruh di binatu. Terkadang, ia mendapatkan pinjaman dari mahasiswa yang dikenalnya. Sesekali, di sela jam kerjanya ia mulai menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke sebuah majalah khusus pria. Dari honor tulisan yang dimuat inilah, Stephen King bisa sedikit menabung, dan tabungannya akan sangat berguna ketika kebutuhan semakin mencekik. Stephen King juga pernah bekerja sebagai pelayan di pompa bensin.

Stephen dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil. Upahnya sebagai buruh binatu, $60 seminggu. Untuk membantu keuangan keluarga, istrinya bekerja di malam hari. Namun, tetap saja mereka hidup kekurangan. Saat anak mereka yang masih bayi terserang infeksi di telinga, mereka tak mempunyai uang untuk biaya pengobatan. Hingga harus menjual beberapa perabotan untuk membeli obat antibiotik.

Stephen King memiliki keinginan sangat kuat untuk menjadi penulis. Setiap malam, dan saat libur di akhir pekan ia mengetik dengan sebuah mesin ketik tua. Sebagian tabungannya digunakan untuk mengirim tulisan ke penerbit dan agen. Tapi, tak ada yang menerima. Semua menjawab, “Tulisan Anda belum memenuhi syarat.” Entah, apakah tulisannya sempat dibaca editor atau tidak. Ia sendiri tidak yakin.

Suatu hari, ia membaca sebuah novel dan teringat pada novel tulisannya sendiri. Ia lalu mengirimkannya pada sebuah penerbit buku milik Thompson. Beberapa minggu kemudian, ia menerima sebuah surat. Bill Thompson sendiri yang menulisnya. Bill menyatakan bahwa naskah yang dikirimkan Stephen King mempunyai banyak kesalahan, namun ia yakin Stephen King adalah seorang penulis yang berbakat. Bill mendorongnya untuk mencoba lagi.

Selama 18 bulan, Stephen King bekerja keras untuk menulis dan terus menulis. Hingga ia berhasil menyelesaikan dua naskah novel dan mengirimkannya ke penerbit milik Bill Thompson tersebut. Sayangnya, naskahnya kembali ditolak.

Penolakan itu tidak mematahkan semangat Stephen King. Ia terus berusaha menyelesaikan lagi naskah novel baru. Tapi, tagihan terus membengkak, kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Ia akhirnya putus harapan, lelah dan tergoda untuk menyerah.

Di malam ke sekian, ia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Esok harinya, istrinya menemukan naskah itu dan mengambilnya.

“Kau tak boleh menyerah, saat keberhasilan telah begitu dekat,” kata istrinya.

Stephen King menatap halaman demi halaman naskahnya. Ia menatapa semangat dan harapan di mata istrinya. Juga harapan dari kata-kata dalam surat Bill Thompson. Setiap hari, dia kembali tekun menulis. Naskah akhirnya selesai dan dikirim kembali ke penerbit Thompson.

Tak diduga, kali ini naskahnya diterima. Penerbit Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah novel horor klasik pertamanya berjudul, “Carrie.” Novel ini kemudian terjual sebanyak 5 juta eksemplar.

Doubleday, penerbit milik Thompson kemudian berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga $400.000. Novel itu semakin dikenal, hingga sutradara sekelas Brian De Palma tertarik memfilmkannya. Tahun 1976, novel ini difilmkan, dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek.

Setelah Carrie, puluhan novel horror Stephen King lainnya laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan novelnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi mendapat pujian sebagai film yang baik. Salem's Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Stephen King menjadi legenda penulis sukses yang meniti karir kepenulisannya benar-benar dari bawah. Bahkan pernah mencapai titik nadir, ketika ia nyaris kehilangan semangat.
Apa rahasia produktivitas Stephen King?

“Saya menulis empat halaman setiap pagi. Saya menulis 2.000 kata setiap hari, kadang-kadang lebih. Tapi, kadang-kadang juga hanya 1.000 kata. Yang penting menulis setiap hari.”

Bagaimana? Siap meneruskan jejak kesuksesan Stephen King? Ingat pesan Stephen King ini, "Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik -sesuai dengan kemampuanmu- kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja."


Referensi:
 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates