Oleh Nurul Asmayani
net |
Baru-baru ini saya dapat kiriman novel dari seorang kawan. Alhamdulillah, senang sekali.
Kebetulan, saya memang perlu refresing. Akhir-akhir ini, rasanya saya terjebak rutinitas yang membuat beku. Jadilah, dalam beberapa malam saja novel yang merupakan tetralogi ini berhasil saya tamatkan.
Novel pertama, sukses membuat saya terbang...huhuy. Romantis abis. Settingnya Korea
Menurut saya kisahnya mirip dengan drama Korea yang banyak diputar di televisi.
Novel kedua, membuat saya mengharu biru. Haduuuh...kenapa tokoh utamanya harus meninggal sih.
Nggak rela!
Novel ketiga, hmm...ini settingnya di Jepang. Negara tempat saya tinggal
Agak sedikit tegaklah duduk saya membacanya. Bagaimanakah Jepang digambarkan dalam sebuah novel Indonesia?
Mari kita lihat...
Kecepatan membaca saya meningkat saking semangatnya. Tapi...duh.
Penulis membuat sebuah kesalahan fatal dan membuat saya mati selera untuk meneruskan membaca.
Di
novel itu, penulis membuat setidaknya dua kesalahan fatal. Ada beberapa
kesalahan lain sebenarnya, tapi menurut saya tak mengapa kalau
diabaikan saja.
Apa kesalahan fatal itu?
1.
Penulis menggambarkan sang tokoh wanita mempunyai handphone dengan
dering sebuah lagu. Dan nada dering itu terdengar keras di banyak
kesempatan. Termasuk, ketika sang tokoh berada di tempat kerjanya,
sebuah perpustakaan. Hallow...bukannya perpustakaan adalah tempat yang
penuh keheningan?
Dan,
orang Jepang (sang tokoh adalah blasteran Jepang-Indonesia) tak mungkin
menggunakan dering handphone keras di tempat-tempat umum (di tempat
kerja, ruang kelas, bis, kereta, atau fasilitas umum lainnya), karena
mereka tak ingin mengganggu orang lain. Biasanya hanya nada getar yang
dipakai ketika berada di fasilitas umum. Di beberapa fasilitas umum,
sinyal handphone juga takakan ada.
Jadi, bagaimana sang tokoh bisa digambarkan mendengar nada dering handphonennya yang berbunyi keras?
Meskipun,
pada akhirnya saya tahu bahwa dering handphone yang keras ini
dimaksudkan penulis sebagai "clue" bagi tokoh pria untuk mengembalikan
ingatannya. Tetap saya merasa, ini sebuah kesalahan yang tak bisa saya
lupakan. Membuat saya kehilangan kepercayaan pada penulisnya *maafkan
saya :( *
2. Penulis menceritakan, tokoh pria mengantarkan tokoh wanita yang berangkat naik kereta hingga ke platform
(tempat keberangkatan) kereta. Haduuuh, saya sedih sekali membaca
bagian ini. Bukan karena bagian ini menceritakan perpisahan, tapi karena
detail yang dituliskan benar-benar menyedihkan.
Stasiun
kereta di Jepang berbeda dengan stasiun di Indonesia. Pengantar tak
akan bisa mengantar calon penumpang kereta hingga ke platform
kereta. Pengantar hanya bisa mengantar hingga ke pintu masuk stasiun,
tempat calon penumpang memasukkan karcis atau men-scan kartu
elektroniknya. Kalau mau mengantar hingga ke platform, pengantar
harus melakukan prosedur yang sama. Memasukkan karcis atau men-scan
kartu elektronik miliknya. Kalau tidak berangkat, nanti saat keluar
harus lapor kepada petugas. Hiyaaa...mendoksai (ribet) kan. Dan orang Jepang nggak terlalu suka melakukan itu.
Sebetulnya, saya tak terlalu suka menuliskan catatan ini. Tapi, kalau tidak saya tuliskan jadi kepikiran terus.
Semuanya
saya lakukan untuk koreksi buat para penulis, termasuk diri saya
sendiri terutama. Jangan sampai melakukan kesalahan seperti itu.
Bermaksud membangun detail, tapi ternyata detail itu salah dan mematikan
selera pembaca.
Di depan saya saat ini ada sebuah buku lama yang bagus tentang menulis. Judulnya "Menulis dengan Emosi", penerbit Kaifa. Di halaman 60-61 Carmel Bird sang penulis buku mengatakan begini,
"Anda
harus mengenal apa yang Anda tulis, harus meyakini apa yang Anda
sampaikan, menguasai apa yang Anda katakan dan sangat peduli dengan
semua itu. Kepedulian ini merupakan masalah penting. Jika si penulis
tidak peduli dengan cerita itu, bagaimana mungkin pembaca diharapkan
peduli?
Seorang
penulis yang peduli tidak akan pernah keliru menyampaikan, misalnya
bahwa si tokoh bisa mencium wangi bunga hidra. Karena hidra tidak
berbau. Ketika pembaca membaca kekeliruan seperti itu, si pembaca
langsung kehilangan kepercayaan pada si penulis dan pada cerita itu.
Setiap detail karya Anda harus diperiksa kebenarannya, walau detail itu
tampaknya remeh."
"Saya berhati-hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu."
(Elizabeth Jolley)
Ps. Bukan berarti novel ini tak memiliki kelebihan.
Kelebihannya banyak loh. Dan saya sukaaa...
Penulis
piawai membangun dialog yang mengalir, menuliskan detail setting tempat
dan peristiwa hingga pembaca seolah melihat dan menyaksikan sendiri.
Saya
menemukan kesalahan fatalnya, karena kebetulan sebuah novelnya
bersetting Jepang tempat saya saat ini tinggal. Tetap acungkan jempol
untuk penulis.
0 komentar:
Posting Komentar