Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2014

[Resensi] Storycake for Ramadhan


Judul       : Storycake for Ramadhan (44 Kisah-kisah indah dan inspiratif seputar Ramadhan yang menyentuh hati)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis    : Lygia Pecanduhujan dkk
Kategori : Kumpulan Cerpen
Tebal       : 262 Halaman
Harga      : Rp. 50.000,- 

Ramadhan dan Idul Fitri adalah hari-hari dimana seluruh muslim di seluruh dunia menyambut dan merayakannya dengan sukacita. Banyak kisah yang tertoreh pada saat itu. Kenangan yang begitu manis, lucu, kocak, konyol, mengharukan, hingga tak jarang juga mendatangkan tangis kesedihan maupun kebahagiaan. Bahkan tak jarang seluruh kenangan tersebut akan terbawa terus sampai nanti dan tercatat pada dinding hati.
Seluruh kisah yang terdapat dalam buku ini adalah kisah-kisah sederhana yang meninggalkan kesan mendalam pada setiap penulisnya. Tercatat ada 44 kisah-kisah indah dan inspiratif seputar Ramadhan yang dapat kita temui di buku setebal 262 halaman ini. Bahkan ada di antara kita yang ternyata pernah mengalami hal-hal yang sama. Hingga kita bisa larut dalam senyuman dan air mata ketika membaca kisahnya.
Seperti ada gairah, kenikmatan dan kerinduan yang menyeruak ketika Ramadhan semakin mendekat. Pengalaman beribadah di bulan Ramadhan yang selalu dinantikan kehadirannya. Suara beduk bertalu-talu, pergi tarawih berbondong-bondong, pengalaman ikut berkeliling membangunkan sahur, jungkir balik menyiapkan hidangan Ramadhan untuk pertama kalinya, hingga segala kehebohan menjelang Idul Fitri. Semuanya terkadang meninggalkan cerita sedih atau lucu dan tak terlupakan sepanjang hidup kita. Kepolosan ceritanya akan membuat kita tak sabar untuk menghabiskan buku ini dengan tuntas hingga halaman terakhir.
Apapun itu, yang pasti buku ini adalah kumpulan kisah penuh hikmah yang akan membawa kita ikut serta merasakan apa yang dialami penulis. Seperti pengalaman Lygia Pecanduhujan yang melongo keheranan sepulang dari sekolah saat menyaksikan kulkas dirumahnya diikat tali. Atau pengalaman Alina Sitha yang mendapatkan berkah Ramadhan berupa hadiah-hadiah kuis yang diikutinya melalui siaran radio kesayangannya sepanjang bulan Ramadhan. Mendapatkan hadiah berupa sandal bermerek, kupon belanja hingga coto makassar kesukaannya.
Ada juga pengalaman Dina Sudjana yang merasakan indahnya berpuasa di negeri sakura, Jepang. Saat dirinya dipanggil datang ke sekolah oleh kocko sensei, kepala sekolah anaknya dan harus menjelaskan kepadanya mengapa anak sekecil itu harus berpuasa di saat teman-temannya makan siang di sekolah.  Semuanya tersaji secara runtun dan senderhana.
Kumpulan cerita hikmah dalam buku ini dibagi menjadi 3 bagian, unforgottern Ramadhan, air mata itu dan Ramadhan penuh cinta. Storycake adalah kue cerita. Yang berisikan sekumpulan kisah menarik yang dikemas secara apik, mengharukan, membahagiakan dan membuat kita sadar bahwa ada begitu banyak kisah di luar sana yang mungkin mirip dengan apa yang pernah atau sedang kita alami.
Selamat membaca dan nikmati Ramadhan dengan menggigit sepotong demi sepotong kisah yang ada dalam storycake ini !

Sumber:  http://fandagri.blogdetik.com/resensi-buku-storycake-for-ramadhan/

Rabu, 07 Mei 2014

[Review] Detail Yang Mematahkan


Oleh Nurul Asmayani


net
Baru-baru ini saya dapat kiriman novel dari seorang kawan. Alhamdulillah, senang sekali.
Kebetulan, saya memang perlu refresing. Akhir-akhir ini, rasanya saya terjebak rutinitas yang membuat beku. Jadilah, dalam beberapa malam saja novel yang merupakan tetralogi ini berhasil saya tamatkan.

Novel pertama, sukses membuat saya terbang...huhuy. Romantis abis. Settingnya Korea
Menurut saya kisahnya mirip dengan drama Korea yang banyak diputar di televisi.
Novel kedua, membuat saya mengharu biru. Haduuuh...kenapa tokoh utamanya harus meninggal sih.
Nggak rela! 
Novel ketiga, hmm...ini settingnya di Jepang. Negara tempat saya tinggal
Agak sedikit tegaklah duduk saya membacanya. Bagaimanakah Jepang digambarkan dalam sebuah novel Indonesia?
Mari kita lihat...
Kecepatan membaca saya meningkat saking semangatnya. Tapi...duh.
Penulis membuat sebuah kesalahan fatal dan membuat saya mati selera untuk meneruskan membaca.
Di novel itu, penulis membuat setidaknya dua kesalahan fatal. Ada beberapa kesalahan lain sebenarnya, tapi menurut saya tak mengapa kalau diabaikan saja.

Apa kesalahan fatal itu?
1. Penulis menggambarkan sang tokoh wanita mempunyai handphone dengan dering sebuah lagu. Dan nada dering itu terdengar keras di banyak kesempatan. Termasuk, ketika sang tokoh berada di tempat kerjanya, sebuah perpustakaan. Hallow...bukannya perpustakaan adalah tempat yang penuh keheningan?
Dan, orang Jepang (sang tokoh adalah blasteran Jepang-Indonesia) tak mungkin menggunakan dering handphone keras di tempat-tempat umum (di tempat kerja, ruang kelas, bis, kereta, atau fasilitas umum lainnya), karena mereka tak ingin mengganggu orang lain. Biasanya hanya nada getar yang dipakai ketika berada di fasilitas umum. Di beberapa fasilitas umum, sinyal handphone juga  takakan ada. 
Jadi, bagaimana sang tokoh bisa digambarkan mendengar nada dering handphonennya yang berbunyi keras?
Meskipun, pada akhirnya saya tahu bahwa dering handphone yang keras ini dimaksudkan penulis sebagai "clue" bagi tokoh pria untuk mengembalikan ingatannya. Tetap saya merasa, ini sebuah kesalahan yang tak bisa saya lupakan. Membuat saya kehilangan kepercayaan pada penulisnya *maafkan saya :( *
2. Penulis menceritakan, tokoh pria mengantarkan tokoh wanita yang berangkat naik kereta hingga ke platform (tempat keberangkatan) kereta. Haduuuh, saya sedih sekali membaca bagian ini. Bukan karena bagian ini menceritakan perpisahan, tapi karena detail yang dituliskan benar-benar menyedihkan.
Stasiun kereta di Jepang berbeda dengan stasiun di Indonesia. Pengantar tak akan bisa mengantar calon penumpang kereta hingga ke platform kereta. Pengantar hanya bisa mengantar hingga ke pintu masuk stasiun, tempat calon penumpang memasukkan karcis atau men-scan kartu elektroniknya. Kalau mau mengantar hingga ke platform, pengantar harus melakukan prosedur yang sama. Memasukkan karcis atau men-scan kartu elektronik miliknya. Kalau tidak berangkat, nanti saat keluar harus lapor kepada petugas. Hiyaaa...mendoksai (ribet) kan. Dan orang Jepang nggak terlalu suka melakukan itu.

Sebetulnya, saya tak terlalu suka menuliskan catatan ini. Tapi, kalau tidak saya tuliskan jadi kepikiran terus.
Semuanya saya lakukan untuk koreksi buat para penulis, termasuk diri saya sendiri terutama. Jangan sampai melakukan kesalahan seperti itu. Bermaksud membangun detail, tapi ternyata detail itu salah dan mematikan selera pembaca.

Di depan saya saat ini ada sebuah buku lama yang bagus tentang menulis. Judulnya "Menulis dengan Emosi", penerbit Kaifa. Di halaman 60-61 Carmel Bird sang penulis buku mengatakan begini,
"Anda harus mengenal apa yang Anda tulis, harus meyakini apa yang Anda sampaikan, menguasai apa yang Anda katakan dan sangat peduli dengan semua itu. Kepedulian ini merupakan masalah penting. Jika si penulis tidak peduli dengan cerita itu, bagaimana mungkin pembaca diharapkan peduli?
Seorang penulis yang peduli tidak akan pernah keliru menyampaikan, misalnya bahwa si tokoh bisa mencium wangi bunga hidra. Karena hidra tidak berbau. Ketika pembaca membaca kekeliruan seperti itu, si pembaca langsung kehilangan kepercayaan pada si penulis dan pada cerita itu. Setiap detail karya Anda harus diperiksa kebenarannya, walau detail itu tampaknya remeh."

"Saya berhati-hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu."
(Elizabeth Jolley)

Ps. Bukan berarti novel ini tak memiliki kelebihan.
Kelebihannya banyak loh. Dan saya sukaaa...
Penulis piawai membangun dialog yang mengalir, menuliskan detail setting tempat dan peristiwa hingga pembaca seolah melihat dan menyaksikan sendiri.
Saya menemukan kesalahan fatalnya, karena kebetulan sebuah novelnya bersetting Jepang tempat saya saat ini tinggal. Tetap acungkan jempol untuk penulis. 

Kamis, 01 Mei 2014

[Resensi] Membaca Seribu Bulan, 360 Kisah Keajaiban Al-Quran

Tulisan ini diambil dari : http://dewirieka.blogspot.com/2014/03/membaca-seribu-bulan-360-kisah.html
________________
Oleh : Dewi Rieka Kustiantari (Mbak Dedew)
Dear Temans,

Nailah putriku yang sebentar lagi enam tahun, hobi sekali baca. Ia sudah bisa membaca lumayan lancar dan mulai menjadi kutu buku. Buku apa saja dilahapnya mulai dari Ensiklopedi, buku cerita hingga kisah Princess yang jadi favoritnya. Kebiasaan membaca ini bikin adeknya kesal, dan bilang Kak Nai nggak asyik hihi karena jarang mau diajak main bareng kalau sedang asyik baca.

Sudah lama saya mencari buku tentang kisah-kisah dalam Al Quran untuk Nailah. 
Ada beberapa buku rekomendasi teman yang saya beli. Tapi, saat ini belum tertarik dibaca Nailah. Mungkin karena satu cerita masih terlalu panjang untuk anak seusianya. Gaya bahasanya pun agak serius. 

Dan, daku menemukan buku ini.
Judulnya Seribu Bulan, 360 Kisah Keajaiban Al-Quran. Karya seorang teman, Nurul Asmayani. 
Buku ini disusun berdasarkan 12 bulan Hijriah.
Konsepnya sama dengan buku-buku yang beredar saat ini seperti 365 Dongeng Disney dan sebagainya.
Setiap hari satu cerita selama 12 bulan. Kita bisa membacanya dari bulan pertama yaitu bulan Muharram atau secara acak.

Dari segi sampul buku, menarik. Ilustrasinya lucu dipadu tulisan judul yang blink-blink. Menarik minat anak atau ibunya untuk meraihnya di toko buku. Hehe. Tebalnya juga bikin wow. Buku Nurul Asmayani, anggota IIDN yang kini menetap di Jepang ini setebal 495 halaman. Ilustrasi bagian dalam pun menarik. Karya Innerchild Studio yang sudah tersohor terutama untuk buku anak. Saya suka gaya ilustrasi mereka.

Dari segi harga, mungkin agak mengagetkan ibu ya, hehe. Sekitar 198 ribu rupiah.
Tapi, harganya sih menurut saya wajar karena bukunya yang tebal dan padat ceritanya. Penampilan buku juga menarik.

Saya membaca buku ini, setiap cerita ternyata tidak terlalu panjang. Tapi gampang dimengerti karena bahasanya ringan untuk anak seusia Nailah. Ini dia yang saya cari. Buku anak koleksi saya yang bertema serupa, bahasanya agak serius dan membuat Nai mengerutkan kening. Ia jadi bosan membacanya. Hm, disimpan dulu deh. Nanti kalau ia sudah bisa membaca cerita yang lebih panjang bakal dikeluarkan lagi. Hehe.

Uniknya, ada penjelasan tentang setiap bulan dalam penanggalan Hijriah. Misalnya di Bulan Muharram adalah bulan yang haram bagi umat Islam berperang. Adapula peristiwa besar yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dan Abu Bakar ke Madinah. Di setiap cerita juga ditulis ayat Al Quran darimana cerita itu berasal.

"Kak, coba deh baca.."
Saya menyodorkan buku ini dan Alhamdulillah, ia suka.
Kami berdua membacanya, sesekali ia bertanya.

Hore, Buku kesukaan Nailah bertambah satu deh.

Foto pribadi Mbak Dedew

Jumat, 25 April 2014

[Resensi] Ya Allah, Beri Aku Satu Saja...


cover buku "Ya Allah Beri Aku Satu Saja..."
Tidak disangka, pada saat kehidupan pernikahanku dengan suami di dalam kepurukan, Tuhan memberikan karunia yang 11 tahun sudah aku idam-idamkan. Aku dinyatakan positif hamil 10 minggu oleh dokter. Tuhan, aku memang merindukan kehadiran buah cintaku dengan suami, tapi kenapa harus Kau berikan karunia itu di saat hidupku hancur? Di kala suamiku sedang menjalani dua tahun masa kurungan di penjara.  

Penulis: Pipit Setiafitri

Hasil Laparoskopi menunjukkan bahwa aku terkena tumor ovarium. Aku syok dengan diagnosis dokter tersebut, apalagi selama ini aku tak mendapati gangguan siklus haid. Dokter menjelaskan bahwa tumor di ovarium ini neoplastik yang tak ganas, jadi memerlukan tindakan pengangkatan tumor.

Aku pasrah saja dengan keputusan dokter, karena yang ada dalam benakku adalah keinginan untuk bisa punya anak lagi. Suamiku mendukung keputusanku.

Tibalah saatnya operasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Suamiku tampak cemas, namun dialah yang mengurusi semua perlengkapan dan kebutuhanku. Kutahu ia masih mencintaiku, hanya saja mungkin ia pernah khilaf karena keputusasaannya untuk bisa mendapatkan anak lagi dariku.

Penulis: Viana Akbari


Tulisan-tulisan di atas merupakan salah satu kisah nyata dari buku “Ya Allah, Beri Aku Satu Saja.. Tutur Jujur Para Pendamba Momongan”. Buku yang berkisah tentang pengalaman suka duka, menunggu hadirnya buah hati dalam sebuah pernikahan.

Buku yang ditulis oleh 20 orang penulis wanita ini, dijamin akan menguras emosi dan air mata. Pembaca pun akan ikut larut dalam serangkaian kisah jujur yang kami tuturkan. Dilengkapi dengan ulasan medis dari setiap permasalahan yang ada dalam setiap kisahnya.

Semoga buku ini kelak akan memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembacanya. Karena buku ini dipersembahkan bagi pasangan yang masih menanti kehadiran buah hati. Harapan itu selalu ada pada setiap ikhtiar yang kita upayakan. Juga, untuk para orang tua yang telah merajut cinta bersama buah hatinya. Bersyukurlah, amanah itu kini sudah berada di dalam buaian.

Buku ini memberikan pemahaman pada kita, bahwa Allah mengabulkan doa dan harapan, selalu pada saat yang tepat. Saat seluruh upaya telah dikerahkan. Saat kita sebagai manusia berada pada titik maksimal kepasrahan pada Allah SWT. Saat tak ada lagi kekuatan yang kita harapkan, selain kekuatan dan kekuasaan-Nya.
 _______________________________________
Resensi ini diterbitkan di salah satu rubrik Republika.co.id , kerjasama dengan komunitas penulis perempuan Women Script & Co.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/women-script-co/12/04/19/m2q2qu-resensi-buku-antologi-menanti-buah-hati

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates