Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

Naila Hasna, Penulis Cilik Kalimantan Selatan

Nama lengkapnya Naila Hasna Rasunah. Anak pertama dari Nurul Asmayani dan Rodiansono. Nurul Asmayani -sang ibu - adalah seorang penulis, sedangkan Rodiansono - sang Ayah - adalah dosen di Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat. 

Naila yang sekarang berusia 10 tahun bersekolah di SDIT Rabbani Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Tepatnya ada di kelas 4. Tahun 2013 kemarin Ia berhasil mewujudkan impiannya menjadi penulis melalui lomba yang diadakan oleh penerbit DAR!Mizan. Bersama sembilan penulis cilik lain yang terpilih, akhirnya terbitlah buku antologi Naila berjudul KKPK JuiceMe : Guru Tiga Kali. Dalam buku itu karya Naila bertajuk My Special Day, dimana Ia menceritakan tentang pengalamannya waktu bersekolah di Jepang. 


Anak yang sedikit pemalu ini juga menjadi penulis cilik pertama yang mewakili Kalimantan Selatan dalam acara Konferensi Penulis Cilik Indonesia pada bulan November 2013, di Jakarta. Aktivitasnya bisa dilihat di blog pribadinya disini.


Hebat ya Naila. Ayo siapa yang mau mengikuti jejak Naila? Gabung aja ke Sekolah Pena Cahaya, ada kelas Menulis untuk Anak lo. Kelas dimulai pekan ke-3 Agustus ini. Info lebih lengkap disini.
_______________________________________________

Berikut tentang buku KKPK JuiceMe : Guru Tiga Kali.
Judul      : KKPK JuiceMe Guru Tiga Kali
Penulis   : Rachel, Laksita, Raka, Angel, Queen, Patricia, Yasmin, Salwa, Naila, dan Khalda. 
Penerbit : DAR!MIZAN


Sinopsis:
Hm... rasanya Bu Atin tak asing bagi Rachel. Sepertinya Rachel pernah melihatnya di mana, begitu. Wajahnya mirip Bu Eni, gurunya dulu. Sifatnya juga sama, penyabar. Dan yang paling tak terbantahkan... pipi Bu Atin dan Bu Eni sama-sama pink! Mungkinkah blush on-nya sama?

Ada juga kisah guru Laksita yang suka membagi-bagikan nasi kuning kepada murid-muridnya, Raka yang digembleng oleh guru karatenya dengan cara yang tak terduga, Queen yang merasa dibenci oleh gurunya, dan masih banyak lagi kisah yang menarik.


Selasa, 13 Mei 2014

[Seri Motivasi] Carmen Balcells: Penggerak Sesungguhnya “Boom” Sastra Amerika Latin

Tulisan di sadur dari : http://sastraalibi.blogspot.com/2012/04/carmen-balcells-penggerak-sesungguhnya.html
---------------------------------------
Ketika berbicara tentang boom sastra Amerika Latin –fenomena lonjakan penjualan dan minat publik pada karya sastra Amerika Latin baik dalam bahasa Spanyol maupun terjemahan yang terjadi pada era 1960-1970-an—kebanyakan pengamat dan pembaca hanya berbicara tentang para penulis yang menonjol dari era tersebut, terutama, sebutlah, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dsb. Seakan-akan hanya dari tekad, perjuangan, dan kualitas para penulis inilah sastra Amerika Latin bisa dikenal dunia. Kebanyakan pembaca di Indonesia misalnya, nyaris tak mengenal nama Carmen Balcells. Dia memang bukan penulis, “hanya” seseorang yang bekerja di balik layar sebagai agen sastra. Namun tanpa dia,boom sastra Amerika Latin bisa dipastikan tak akan terjadi. Mempelajari apa yang dilakukan Balcells sesungguhnya bisa sangat berguna apabila kita hendak serius mengangkat sastra Indonesia ke pentas dunia.

Carmen Balcells Segalà dilahirkan pada 9 Agustus 1930 di Santa Fe de Segarra, kota kecil dengan penduduk hanya sekitar 50 orang di provinsi Lérida, sebelah timur laut Spanyol yang masuk dalam wilayah otonom Katalunya. Pada usia 16 tahun ia pindah ke Barcelona dan bekerja di sana. Persentuhannya dengan dunia sastra sebenarnya baru terjadi pada 1954, ketika Balcells pindah kerja dari sekretaris di pabrik tekstil menjadi perwakilan Barcelona untuk agensi sastra ACER milik penulis Rumania, Vintila Horia. Balcells segera dikenal dan disukai oleh para penulis karena dengan keras ia memperjuangkan hak-hak penulis dari kesemena-menaan penerbit yang hanya cari untung. Ia membuat kontrak penerbitan menjadi lebih adil bagi kedua pihak.

Setelah dua tahun menimba pengalaman di ACER, pada 1956 Balcells merasa siap membuka agensinya sendiri di Barcelona, dan dari situlah boom sastra Amerika Latin sesungguhnya bermula. Balcells melihat potensi luar biasa para penulis Amerika Latin, dan ia jajakan buku-buku mereka ke penerbit-penerbit Spanyol serta Eropa lainnya untuk diterjemahkan. Itu sebabnya Barcelona sering dijuluki sebagai “ibukota sastra Amerika Latin.”

Hingga kini tak kurang dari lima peraih Hadiah Nobel Sastra besar dalam naungannya: Mario Vargas Llosa, Gabriel García Márquez, Camilo José Cela, Pablo Neruda, Miguel Ángel Asturias, dan Vicente Aleixandre. “Carmen Balcells Agencia Literaria S.A.” juga menjadi wadah bagi para penulis sohor Amerika Latin lainnya (seperti Augusto Roa Bastos, Carlos Fuentes, Isabel Allende, José Donoso, dll) serta para penulis besar Spanyol (seperti Manuel Vázquez Montalbán, Juan Goytisolo, Rafael Alberti, Ana María Matute dll).

Carmen Balcells di depan lukisan potret dirinya karya Gonzalo Goytisolo
Foto: M. Sàenz / El País

Tentunya, Balcells tak bisa mencapai ini tanpa atmosfer zaman itu yang memang mendukung, yakni tumbuhnya kesadaran akan Amerika Latin sebagai sebuah kesatuan politik, bukan semata-mata geografis, serta tampilnya Amerika Latin sebagai kekuatan politik yang menonjol pasca digulingkannya kedikatoran Batista oleh pasukan gerilya Fidel Castro di Kuba.

Sebelum 1960, bisa dibilang tak ada “kesadaran Amerika Latin”—yang ada hanyalah negara-negara kecil di selatan benua Amerika yang saling memusuhi satu sama lain, meskipun memiliki kesamaan bahasa (Spanyol) dengan variasi dialek lokal dan nasionalnya masing-masing. Seperti dibilang oleh novelis Cile José Donoso dalam memoarnya tentang masa-masa boom: “Sebelum 1960 sangat tidak lazim mendengar orang bicara tentang ‘novel Amerika Latin kontemporer’. Adanya hanya novel Uruguay atau Ekuador, novel Meksiko atau Venezuela. Novel tiap-tiap negara terkurung dalam batas-batas negaranya saja, ketenaran atau relevansi sebuah novel dalam banyak kasus hanya menjadi perkara lokal.”[1]

Semua ini berubah dengan meletusnya Revolusi Kuba. Kemenangan Castro membuat negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis yang serupa. Dukungan pada Castro menyatukan kaum intelektual negara-negara Amerika Selatan dan menumbuhkan rasa sebagai satu “Amerika Latin”. Seperti ditulis Donoso, suasana Kongres Intelektual di Concepción, Cile, pada 1962, dipenuhi semangat dukungan pada Kuba oleh provokasi novelis Meksiko Carlos Fuentes yang menyatakan bahwa Amerika Latin kini hanya bisa berpaling pada Kuba, dan bahwa di Amerika Latin “sastra dan politik tak terpisahkan.”[2] Donoso juga mengenang bahwa pada kongres itulah ia pertama kali berkenalan dengan Fuentes, sementara nama-nama (yang kini) besar seperti García Márquez, Vargas Llosa, bahkan Jorge Luis Borges dan Juan Rulfo, tak disinggung-singgung sama sekali karena tak banyak orang mengenal mereka.[3] Dengan demikian bisa disimpulkan, bahkan pada tahun 1962 itu pun, para sastrawan Amerika Latin masih belum saling membaca karya sastra antar negara mereka.

“Sastra Amerika Latin” baru mewujud ketika karya-karya dari Amerika Latin diboyong ke Barcelona untuk diterbitkan di Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya. Para penulis Amerika Latin yang berkumpul di Barcelona mulai membaca satu sama lain dan merasa diri sebagai satu kesatuan yang mengemban proyek literer-politik yang sama. Kita bisa melihat sekilas kemiripan situasi ini dengan analisa Ben Anderson tentang kemunculan nasionalisme Indonesia atau Filipina, di mana justru di negara induklah (Belanda dalam kasus Indonesia dan Spanyol dalam kasus Filipina), orang-orang buangan dari negara kolonial merasa sebagai satu kesatuan untuk lalu membentuk proyek nasionalisme.

Pada sisi lain, kemenangan Castro dalam Revolusi Kuba juga menumbuhkan minat dunia pada subbenua tersebut, terutama kecemasan AS terhadap meluasnya komunisme di benua Amerika. Amerika Latin mulai dipandang sebagai sebuah kekuatan (kalau bukan ancaman) ekonomi-politik yang sedang berkembang. Segala tulisan yang berasal dari subbenua tersebut karenanya menjadi layak untuk diterjemahkan, dibaca, dan diteliti. Dalam konteks inilah Carmen Balcells dengan antuasiasme menggebu-gebu mempromosikan sastra Amerika Latin sebagai sastra kelas dunia yang sudah waktunya dibaca oleh pembaca di Dunia Pertama.

Carmen Balcells dijuluki “la dueña del boom” (induk semang boom sastra Amerika Latin) oleh majalah Clarín,[4] dan sungguh tak salah, karena sebagai agen sastra ia memang bersikap bak “ibu kos” bagi para penulisnya: cerewet, bawel, namun penuh perhatian. Donoso mengenang pesta Tahun Baru 1970, di mana Julio Cortázar berjoget tidak karuan, Vargas Llosa dan istrinya berdansa walsa Peru, García Márquez dan istrinya menari merenque, sementara Carmen Balcells hanya duduk santai di sofa empuk sambil terus mengudap dan “mempelajari kami: barangkali dengan rasa kagum, barangkali dengan rasa lapar, barangkali dengan paduan keduanya.”[5] Ia berjaga agar mereka tak kelewat mabuk.

Pada akhir 1970-an, ketika Vargas Llosa terpaksa menjadi dosen tamu di King’s College untuk menyambung hidup, dan dengan demikian merintangi kerja penulisannya, Balcells menyuruhnya pindah ke Barcelona agar bisa berkonsentrasi menulis dan mengganti upah yang didapatnya sebagai dosen. Dan saat Camilo José Cela di usia senjanya sudah tak sanggup lagi menulis, Balcellslah yang menopang hidupnya. Ia juga memberi dukungan moril pada Ana María Matute agar sembuh dari depresi, yang lantas memungkinkannya merampungkan novel terbaiknya,Olvidado rey Gudú (1996). “Ya, ya, ya… Para penulis ini memang aneh-aneh,” Balcells mengenang.[6] Juan Goytisolo sering meneleponnya untuk curhat soal rumah tangga dan García Márquez bahkan bertanya usil padanya, “Carmen, kau mencintaiku?” “Aku susah menjawabnya, sepertiga pemasukanku berasal darimu.”

Mario Vargas Llosa dan Carmen Balcells
(Foto: Quique García / El Mundo)

Namun yang paling membuat Carmen Balcells menjadi legenda adalah kegigihannya dalam memperjuangkan mati-matian hak para penulis. Carmen Balcells menghentikan praktik-praktik “kontrak seumur hidup” yang jamak terjadi dalam dunia penerbitan zaman itu. Novelis Katalunya Manuel Vázquez Montalbán menyebutnya sebagai la liberadora de autores (pembebas para penulis): “Sebelum ada dia, penulis meneken kontrak seumur hidup dengan penerbit, menerima royalti yang amat menyedihkan besarannya, dan kadang, sebagai hadiah, dikado baju hangat atau keju.”[7]

Menulis ini, saya jadi teringat Drs. Suyadi (Pak Raden) yang kini di usia senjanya hidup serba berkesusahan tanpa memperoleh sedikit pun royalti dari serial Unyilyang ia ciptakan sendiri, karena kontrak dengan PFN dengan sangat tidak adil tidak mencantumkan batasan waktu kapan lisensi yang dipegang PFN berakhir.

Banyak penulis merasa berutang budi pada Balcells. García Márquez menjulukinya penuh takzim “Mamá Grande” (Mama Besar), yang lantas dijadikan salah satu tokoh cerpennya dalam Los funerales de la Mamá Grande. José Donoso dalam novel El jardin de al lado menggambarkan pribadi Balcells sebagai agen sastra tak kenal ampun dalam diri tokoh bernama Núria Monclús. Uniknya, Isabel Allende mengaku memutuskan mengirimkan naskah La casa de los espíritus ke Carmen Balcells –setelah ditolak semua penerbit di Amerika Latin—setelah membaca novel Donoso tersebut.[8] Allende mendedikasikan novel Retrato en Sepia juga kepada Balcells.

Namun tentu tak semua pihak memandang positif pengaruh Balcells pada sastra Amerika Latin dan sastra berbahasa Spanyol secara lebih luas. Terutama dari pihak penerbit. Pada 1960-an itu, seperti ditulis Mario Vargas Llosa, kegigihan Balcells dalam membela hak-hak penulis membuatnya dituding oleh penerbit sebagai “pengkhianat, matre, mata duitan, pembantai sastra, dan ribuan julukan tak sedap lainnya.”[9]

Mayder Dravasa misalnya, dalam kajiannya tentang masa-masa boom di Barcelona ini, menyebut bahwa tuntutan-tuntutan Balcells banyak merugikan penerbit dan menciptakan ekspektasi-ekspektasi dalam diri para penulis yang sesungguhnya tidak bisa dipenuhi oleh pasar pada saat itu.[10] Dravasa mencontohkan, ketika Balcells menuntut uang muka 40.000 peseta, ini artinya penerbit harus bekerja keras menjual ratusan ribu eksemplar, angka yang mustahil bagi pasar zaman itu. Namun Dravasa tidak menjelaskan dakwaannya lebih lanjut dalam hitung-hitungan ekonomis: benarkah tuntutan Balcells merugikan penerbit? Bukankah Alfaguara dan Barral (saat itu Seix-Barral), dua penerbit yang menjadi langganan Balcells saat itu, kini menjadi penerbit-penerbit terbesar di Spanyol, bahkan termasuk penerbit besar di dunia? Tidakkah ini –paling tidak sebagiannya—dikarenakan oleh dampak larisnya karya-karya el boom? Vargas Llosa mencatat ironinya di sini: bila pada masa boom Balcells memperjuangkan royalti tinggi karena yakin akan mutu sastra para penulisnya, sekarang ini justru banyak penulis pemula dengan karya medioker berharap bisa ditangani oleh Balcells justru karena impian akan tingginya perolehan royalti itu.[11]

Uniknya lagi, ketika tugas seorang publisis kini lebih banyak dimaknai sebagai banyak bicara di sana-sini mewakili penulis, atau menggelar kuis-kuis, hadiah-hadiah, dan kegiatan-kegiatan yang kadang tak ada kaitannya dengan sastra, terasa janggal melihat Balcells justru sangat jarang tampil di depan media. Karenanya, wawancara yang saya kutip untuk esai ini dari majalah Clarín (September 2006) terbilang istimewa, karena terakhir kali Balcells mau diwawancarai adalah lebih dari 20 tahun sebelumnya oleh Carme Riera dari majalah Quimera. Apa alasannya? Balcells menjawab tegas bahwa kegiatan seorang agen bukanlah beriklan atau berhadapan muka langsung dengan publik. Publisitas harus tertuju pada penulis dan karyanya sendiri. Maka Sang Mama Besar pun menjadi besar karena memilih tetap di belakang layar.

Balcells telah menerima pelbagai penghargaan antara lain: gelar doktor Honoris Causa dari Universidad Autónoma de Barcelona (2005) dan Montblanc Award for Women (2006). Pada Mei 2000 Balcells mengumumkan diri pensiun, namun ibarat Steve Jobs yang kembali ke Apple setelah kinerja perusahaan itu terus menurun, demikian juga pada 2008 Balcells kembali bekerja mengetuai agensi sastranya setelah hengkangnya beberapa penulis ternama dari daftar kliennya, seperti penulis Kuba Guillermo Cabrera Infante, penulis Cile Roberto Bolaño, dan penulis Spanyol Daniel Vázquez Salles.

Pada 2010, Departemen Kebudayaan Spanyol membeli total arsip-arsip Carmen Balcells seharga tiga juta Euro—arsip-arsip yang terdiri dari 2.000 dus dan bila dijajarkan akan menjulur sepanjang 2,5 kilometer. Arsip ini baru bisa diakses publik pada November 2011 lalu, meski masih menjadi tarik ulur antara pemerintah pusat di Madrid dengan pemerintah otonom Katalunya di mana arsip tersebut hendak dirumahkan. Bagi penggemar sastra Amerika Latin secara umum, dan khususnya para peneliti sastra, arsip Balcells adalah harta karun. Banyak detail menarik bisa didapat untuk memperjelas dan memperkaya kajian-kajian tentang masa-masaboom.

Salah satu dokumen dari arsip Carmen Balcells: nota transfer sebesar AS$4.190
dari Balcells kepada Gabriel García Márquez untuk biaya tiket pesawat
Meksiko-Swedia dalam rangka acara penerimaan Hadiah Nobel 1982.

(koleksi: Departemen Kebudayaan Spanyol)

Kembali soal boom sastra, kadang saya mendapat pertanyaan (dan juga bertanya-tanya sendiri) mengapa sastra Indonesia tidak bisa melahirkan boom pada aras internasional seperti yang dilakukan oleh sastra Amerika Latin? Saya kira ada dua jawaban yang bisa disimpulkan dari sini. Pertama, seperti kata Fuentes, sastra adalah politik. Minat dunia internasional (katakanlah penerbitan berbahasa Inggris) pada sastra nasional suatu negara tampaknya berbanding lurus dengan minat dunia internasional pada negara tersebut secara ekonomi-politik (entah sebagai peluang atau sebagai ancaman).

Ambil Cina sebagai contoh. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa sastra Cina kontemporer dalam terjemahan Inggris merebak beberapa tahun belakangan ini, dengan angka penjualan yang fantastis? Sebutlah Wolf Totem karya Jiang Rong,The Good Women of China karya Xin Ran, Village of Stone karya Xiaolu Guo, The Right Bank of the Argun karya Chi Zijian, atau 13 Flowers of Nanjing karya Yan Geling. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa Cina menjadi tamu kehormatan di London Book Fair 2012, atau bahwa University of Oklahoma Press kini punya seri khusus “Chinese Literature Today”, atau bahwa penerbit-penerbit terbesar Inggris telah membentuk forum khusus China-UK Literature in Translation? Tentunya ini berkaitan dengan minat dunia internasional untuk mempelajari Cina seiring kekuatan ekonomi-politiknya yang kian menonjol.

Maka dari itu, sebagus apapun para penulis kita berkarya, selama secara ekonomi-politik Indonesia terus menjadi bulan-bulanan dalam percaturan politik internasional, sastra kita secara umum juga takkan dilirik. Satu atau dua karya mungkin berhasil terbit di negeri orang (seperti Bi wa Kizu-nya Eka Kurniawan atauFrische Knochen aus Banyuwangi-nya Agus R. Sarjono), namun boom secara umum tidak akan terjadi.

Kedua, belum ada upaya yang intens, sistematis, dan terorganisir untuk memasarkan karya-karya Indonesia ke luar negeri. Dalam mengikuti pesta-pesta buku internasional semacam Frankfurt Book Fair, penerbit Indonesia datang dengan tujuan utama berburu copyrights buku terjemahan, bukan menjualcopyrights buku untuk diterjemahkan. Jadi, sinyalemen sejarawan Anthony Reid, “Indonesia adalah bangsa yang paling tidak efektif di dunia dalam menjelaskan dirinya kepada dunia,”[12] bisa jadi benar. Bila tak ada upaya intens memperkenalkan diri pada dunia –sebagaimana yang dilakukan Carmen Balcells pada sastra Amerika Latin—maka jangan terlalu berharap dunia akan bisa mengenal kita dengan sendirinya.


[1] José Donoso, Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm. 48.
[3] Ibid., hlm. 34.
[4] Xavi Ayén, “Balcells, la dueña del boom: entrevista a Carmen Balcells,” Clarín, 29 Juli 2006.
[5] Donoso, op. cit., hlm.
[6] Ayén, op. cit.
[7] Dikutip dari Tereixa Constenla, “Los secretos de la Mamá Grande,” El País, 17 November 2011.
[8] Cerita ini didapat dari  Alejandro Herrero-Olaizola, The Censorship Files: Latin American Writers and Franco's Spain (New York: SUNY Press, 2007), hlm. 174-175.
[9] Mario Vargas Llosa, “El jubileo de Carmen Balcells,” El País, 20 Agustus 2000.
[10] Mayder Dravasa, The Boom in BarcelonaLiterary Modernism in Spanish and Spanish-American Fiction 1950-1974 (New York: Peter Lang, 2005), hlm. 134.
[11] Vargas Llosa, op. cit.
[12] Anthony Reid, “Indonesia dan Dunia Sesudah 66 Tahun,” majalah Tempo, 14-20 November 2011.

Jumat, 25 April 2014

[Resensi] Ya Allah, Beri Aku Satu Saja...


cover buku "Ya Allah Beri Aku Satu Saja..."
Tidak disangka, pada saat kehidupan pernikahanku dengan suami di dalam kepurukan, Tuhan memberikan karunia yang 11 tahun sudah aku idam-idamkan. Aku dinyatakan positif hamil 10 minggu oleh dokter. Tuhan, aku memang merindukan kehadiran buah cintaku dengan suami, tapi kenapa harus Kau berikan karunia itu di saat hidupku hancur? Di kala suamiku sedang menjalani dua tahun masa kurungan di penjara.  

Penulis: Pipit Setiafitri

Hasil Laparoskopi menunjukkan bahwa aku terkena tumor ovarium. Aku syok dengan diagnosis dokter tersebut, apalagi selama ini aku tak mendapati gangguan siklus haid. Dokter menjelaskan bahwa tumor di ovarium ini neoplastik yang tak ganas, jadi memerlukan tindakan pengangkatan tumor.

Aku pasrah saja dengan keputusan dokter, karena yang ada dalam benakku adalah keinginan untuk bisa punya anak lagi. Suamiku mendukung keputusanku.

Tibalah saatnya operasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Suamiku tampak cemas, namun dialah yang mengurusi semua perlengkapan dan kebutuhanku. Kutahu ia masih mencintaiku, hanya saja mungkin ia pernah khilaf karena keputusasaannya untuk bisa mendapatkan anak lagi dariku.

Penulis: Viana Akbari


Tulisan-tulisan di atas merupakan salah satu kisah nyata dari buku “Ya Allah, Beri Aku Satu Saja.. Tutur Jujur Para Pendamba Momongan”. Buku yang berkisah tentang pengalaman suka duka, menunggu hadirnya buah hati dalam sebuah pernikahan.

Buku yang ditulis oleh 20 orang penulis wanita ini, dijamin akan menguras emosi dan air mata. Pembaca pun akan ikut larut dalam serangkaian kisah jujur yang kami tuturkan. Dilengkapi dengan ulasan medis dari setiap permasalahan yang ada dalam setiap kisahnya.

Semoga buku ini kelak akan memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembacanya. Karena buku ini dipersembahkan bagi pasangan yang masih menanti kehadiran buah hati. Harapan itu selalu ada pada setiap ikhtiar yang kita upayakan. Juga, untuk para orang tua yang telah merajut cinta bersama buah hatinya. Bersyukurlah, amanah itu kini sudah berada di dalam buaian.

Buku ini memberikan pemahaman pada kita, bahwa Allah mengabulkan doa dan harapan, selalu pada saat yang tepat. Saat seluruh upaya telah dikerahkan. Saat kita sebagai manusia berada pada titik maksimal kepasrahan pada Allah SWT. Saat tak ada lagi kekuatan yang kita harapkan, selain kekuatan dan kekuasaan-Nya.
 _______________________________________
Resensi ini diterbitkan di salah satu rubrik Republika.co.id , kerjasama dengan komunitas penulis perempuan Women Script & Co.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/women-script-co/12/04/19/m2q2qu-resensi-buku-antologi-menanti-buah-hati

Sabtu, 12 April 2014

Jejak Yang Tertinggal

Sebuah Proses Kreatif Nurul Asmayani

Menulis adalah aktivitas yang selalu lekat dalam kehidupan saya. Saya menulis apa pun, di mana pun, namun lebih banyak saya nikmati dan baca sendiri. Lalu, mulai kurun 2002 hingga 2003 saya baru berani mempublikasikan karya saya untuk dinikmati orang lain. Saya mengirimkan beberapa cerita pendek yang saya tulis ke sebuah majalah remaja Islami, "Annida". Beberapa ditolak, beberapa lolos dan terbit. Terakhir, sebuah cerita pendek saya menjadi kisah utama di majalah tersebut. Cerita berlatar belakang suasana Aceh, yang saya beri judul "Membunuh Malam".

Pertengahan 2004, saya menjadi ibu. Anak sulung saya lahir, dan saya benar-benar konsentrasi mengurus anak dan rumah. Saya berhenti mengirim tulisan ke majalah. Meskipun desakan itu kadang menggoda saya.
Tahun 2005 sebuah kesempatan lomba menulis novel datang. Saya tak sanggup menampik godaan itu. Maka, mulailah saya mengobrak-abrik buku diary dan block note saya yang berisi plot novel. Membongkar beberapa catatan kecil tentang apa yang ingin saya tulis. Serta beberapa buku lama yang sudah lecek karena bolak-balik saya baca dan bawa tidur :p

Akhirnya, lahirlah sebuah novel dengan setting Batavia di tahun 1920-an. Tentang perjuangan seorang muslimah mempertahankan keyakinannya. Alhamdulillah, novel itu berhasil menjadi juara kedua (juara satu tidak ada) di sebuah penerbit Islam, tahun 2005. Sekali saya diminta mengedit, namun akhirnya urung diterbitkan. Saya mengerti, mungkin menerbitkan novel dengan tema semacam itu tak menarik dan tak menjual. Novel sejarah dengan tema yang sedikit sensitif. Heu...

Dan, waktu terus berlari meninggalkan saya. Saya melahirkan anak kedua, asyik menikmati zona nyaman saya. Sesekali saya masih menulis cerpen, terkadang puisi. Membaca buku, mencatat ide dan beberapa hal penting di diary dan block note. Masih seperti dulu. Namun saya tak lagi mengirimkan karya ke media.
Terkadang, muncul kerinduan untuk menerbitkan karya lagi. Tapi, desakan itu terkalahkan oleh kesibukan lain di depan mata yang seakan tak ada habisnya.

Lalu, tahun 2009 saya punya facebook. Dan...saya terkesiap! Oh, ke mana saja saya?
Lihatlah, semua orang seakan berlari. Mereka yang terus berproses semakin melesat dan sudah berada di depan. Sementara saya, jauuuuuh tertinggal *nunjuk hidung sendiri*. Semuanya melecut saya. Saya menyadari saya mencintai menulis, tapi saya belum menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari diri saya.

Tahun 2009 itu saya berjumpa dengan mba Ifa Avianty dan teman-teman sekelas di IWS (Hai Fitri, Yanti, Teh Vienna, Mba Ade, Irma, Bu Yani, Danu-satu-satunya makhluk cowok di kelas, Luluk, Genny, Aisy, Teh Anne, dan IWS-ers lainnya). Semua melecut saya untuk belajar lagi menulis. Terseok-seok, terpeleset dan jatuh berkai-kali.

Tahun 2010 novel saya selesai ditulis atas bimbingan dan support ibu guru yang luar biasa. Saya memberanikan diri mengirim ke sebuah penerbit. Hasilnya sukses ditolak. Hahaha :))

Di tahun 2010 juga saya kecanduan ikut semua lomba dan audisi antologi. Lomba buku gratisan di penerbit saya jadikan ajang mempelajari buku yang diterbitkan penerbit tersebut. Lomba resensi, lomba tag foto hingga lomba menulis kisah inspirasi. Menang beberapa, kalah banyak banget. Lolos audisi ada, gagal huhu bejibun. Semuanya saya nikmati, sebagai sarana belajar bagi tubuh dan mental saya.

Saya tahu, jam biologis tubuh saya harus dibiasakan dan dibangun pelan-pelan. Jika siang saya harus mengurus anak dan rumah (saya ibu 3 anak kecil, tanpa pernah mempunyai ART), jauh dari keluarga dan siapa pun yang diharapkan bisa membantu pekerjaan domestik. Maka, waktu menulis saya hanya malam hari. Saat pekerjaan rumah sudah selesai, anak-anak sudah tidur. Tahun 2010 benar-benar tahun pembelajaran. (Curhat saya ada di sini nih :p  http://www.facebook.com/note.php?note_id=402677528880 )

Hasilnya beberapa antologi saya terbit. Alhamdulillah. Dan, menjelang tutup tahun 2010 sebuah proposal saya diterima sebuah penerbit yang saya impikan. Calon buku saya diterbitkan oleh B First (imprintnya Bentang Pustaka). Allah mengabulkan doa dan mimpi saya. Akhir tahun saya mengantongi 1 SPP buku solo. Sesuatu banget, mengingat siapa sih saya ini?

Pengerjaan buku solo pertama ini juga benar-benar penuh kenangan. Saya hanya diberi waktu 22 hari. Maka malam-malam saya terisi dengan begadang dan begadang. Alhamdulillah, tubuh saya sudah terbiasa begadang saat mengejar DL lomba dan antologi bulan-bulan sebelumnya.

Saat  Ramadhan 2010 saya harus pulang ke Indonesia, kepala saya masih dipenuhi dengan agenda penyelesaian buku ini. Ketika rumah kecil saya dipenuhi keluarga yang datang menginap (23 orang dewasa dan anak-anak. Whoaaa), saya harus betul-betul bergerilya. Saat semua lelap di mana-mana. Di kamar, di ruang tamu, di ruang tengah (kecuali dapur kecil), mengendap saya menyalakan laptop dan duduk. Hanya berteman cahaya remang dari lampu dapur saya menulis. Baru saja menyalakan lampu, saya ditimpuk bantal. "Oy, silau!". Jiahhh, jadilah buku ini saya selesaikan dalam kegelapan.Hahaha

Alhamdulillah, deadline berhasil saya kejar. Tepat waktu.

Februari 2011, beberapa hari sebelum saya kembali ke Jepang. Buku solo saya "Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang" diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya. Editor saya tercinta bahkan menyempatkan hadir ke Banjarbaru, tempat tinggal saya.


Jika 2010 adalah tahun pembelajaran. Maka, tahun 2011 adalah tahun membangun pondasi bagi saya.
Tahun 2011 saya tak lagi ikut lomba-lomba menulis yang banyak bertebaran di facebook. Dengan sedikit waktu untuk menulis yang saya miliki, maka saya harus punya prioritas dan fokus. Di tahun ini, sebuah outline saya diterima untuk proyek pengadaan buku pemerintah (proyek DAK). Buku berseri tentang character building, 5 buah buku. Alhamdulillah. Sujud syukur dan gemetar saya saat itu. Lima buku sekaligus? Allahu Akbar!

Pada titik inilah, saya bertemu dengan Teh Indari Mastuti. Seorang bunda serba bisa yang selalu menebarkan semangat. Di tengah pengerjaan 5 buku itu, Jepang diguncang gempa besar berkekuatan 9 magnitudo. Masya Allah! Disusul meledaknya PLTN di Fukushima. Belasan gempa susulan mengguncang kami dalam sehari. Tidur tak pernah nyenyak. Ditambah, air keran tak bisa dikonsumsi karena tercemar. Siang hari setelah gempa besar itu kami lalui dengan aktivitas mengantri di supa. Membeli air mineral dan beberapa makanan instan sebagai persiapan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Editor yang akan menerbitkan buku character building tersebut mengirim email ke saya. Mengirimkan doa dan semangat. Makasih Mba. Sangat berarti bagi saya. Namun, email itu kemudian saya balas dengan permohonan maaf. Saya ingin mengundurkan diri dari pengerjaan buku ini. Saat bumi Jepang masih bergoyang, putri kedua saya sakit. Pencernaannya terserang virus, muntah dan diare berat. Saya tak bisa konsentrasi mengerjakan buku, dalam kondisi anak sakit dan gempa susulan yang masih terus berlanjut.

Pengunduran diri saya diterima. Namun, beberapa hari kemudian saya menerima email lagi yang menyatakan konsorsium penerbitnya meminta buku ini diteruskan. Deadline diperpanjang. Dengan bismilllah, akhirnya saya terima. Namun, di saat yang sama saya terserang virus seperti yang menyerang anak saya. Diare berat, muntah, dan sangat lemas. Tapi saya sudah menyanggupi, dan tak mungkin menyatakan mundur lagi.
Pelan, buku itu saya selesaikan. Pengalaman pertama menyelesaikan lima buah buku dalam satu bulan. Ya Allah, nggak kebayang sebelumnya. Saat itu pula saya dapat kesempatan menimba ilmu pada editor yang baik hati dan tak pernah pelit membagi ilmu. Mba Anna Farida *wink wink ke Mba Anna* Meskipun kadang komen Mba Anna menguliti saya *lebay :p* Tapi saya senang. Kekurangan tulisan saya dibedah dan dikomen habis-habisan. Uhuy deh rasanya. Mengerjakan buku terakhir, kami begadang bersama sambil chatting di YM biar tidak mengantuk. Beliau mengedit, saya meneruskan menulis dengan sisa nafas. Heu...Selalu saya kenang loh Mba. Ingat komennya Mba Anna waktu itu. "Gila yah!" Satu buku lagi, dan waktu yang tersisa hanya beberapa hari. Alhamdulillah, kita bisa ya Mba Anna.

Bulan-bulan berikutnya, saya masih belum bisa fokus 100 % Masih seliweran dengan sisa-sisa pekerjaan di antologi. Hingga tujuh antologi lagi terbit. Pertama antologi Magnitudo 9. Tantang pengalaman kami saat gempa dan tsunami. Kedua, antologi Killer, Nyentrik tapi Asyik. Antologi yang audisinya diadakan tahun 2010. Mengalami dua kali penolakan hingga terbit di Grafindo. Dari antologi ini saya bertemu penulis yang kereeen. Mba Triani Retno yang banyak memberikan ilmu dan tips berharga. Teh Tita, Uni Dian, Lea, Mba Anney, Mba Ochi, Mpok Manda, Nisa, Zoel, dan semuaaaa. Tak ketinggalan kru Grafindo dan Salam Book House yang ramah dan luar biasa.



Ketiga, antologi Semiliar Cinta untuk Ayah yang PJnya Mba Ochi. Keempat, antologi FF Selaksa Makna Ramadhan, dari momen UNSA dan Mas Adi Tiga Tujuh. Kelima, antologi Storycake for Ramadhan yang digawangi oleh Mba Lygia dan IIDN. Keenam,antologi Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri, dikomandani Mba Qonita Musa dan Ayuk Naqiyyah Syam. Alhamdulillah best seller di beberapa Gramedia, beberapa kali diresensi di majalah. Terakhir, antologi "Ya Allah Beri Aku Satu Saja" menutup tahun 2011 dengan manis.


Masih ada beberapa antologi yang saya menjadi PJ masih terus saya perjuangkan insya Allah. Beberapa antologi yang tulisan saya ikut lolos di dalamnya, juga masih menunggu berjodoh dengan penerbit.

Memasuki tengah kedua tahun 2011 saya mulai fokus lagi. Mulai menabung tulisan, menabung proposal, menabung ide. Saya berhasil menyelesaikan 2 buah kisah kepahlawanan untuk anak, pesanan sebuah penerbit besar (lewat agency). Membongkar buku dan referensi yang terkadang bahasanya tidak saya mengerti (terpaksa mengandalkan google translate :p). Alhamdulillah, saya juga dapat kesempatan menimba ilmu di kelasnya Kang Ali Muakhir. Bertemu dengan teman-teman sekelas yang lucu dan hebat semua. Mba Ayu, Mba Indah, Mba Era, adinda Gesang, semuaaa. Dapat kesempatan juga mengeroyok seri kamus Indonesia di IIDN. Saya menyumbang tulisan kecil untuk memperkenalkan pantai di Kalimantan Selatan dan sasirangan.

Alhamdulillah, memasuki November 2011, 4 proposal naskah saya diterima oleh sebuah penerbit besar (lewat agency naskah).Novel berlatar sejarah Jepang berhasil saya selesaikan, pertama kali menyelesaikan sebuah teenlit (keduanya masih saya endapkan dan insya Allah akan segera saya edit).
Dan satu proposal naskah yang saya tawarkan sendiri di sebuah penerbit besar juga diterima. Alhamdulillah. Gemuruh rasa syukur saya. "Ya Allah, nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan?"
Saya bertemu dengan orang-orang luar biasa sepanjang tahun-tahun lalu. Yang memberikan banyak hal berharga, ilmu, persaudaraan, semangat, cinta. Terima kasih semua, yang telah mengantarkan saya hingga sampai di titik ini.

Itulah jejak yang sudah saya tinggalkan di tahun-tahun lalu.
Insya Allah, terus berusaha dan berdoa agar Allah berikan kesempatan dan kemampuan untuk semakin baik di tahun berikutnya. Aamiin.

Sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/search/label/Catatan

Selasa, 01 April 2014

Serial Motivasi Menulis : Belajar dari Stephen King



Pernah mendengar nama Stephen King? Tentu nama ini tak asing lagi dalam dunia penulis.

Stephen Edwin King, nama lengkapnya. Dilahirkan di sebuah kota kecil Portland, Maine, tahun 1947. Ia adalah anak kedua dari pasangan Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Kedua orang tuanya bercerai saat Stephen King masih balita. Ia dan kakaknya David dibesarkan oleh ibunya. Masa susah mereka alami, ibunya bekerja keras untuk menghidupi kedua putranya.

Saat Stephen berusia 11 tahun, mereka kembali ke kampung halaman ibunya di Durham, Maine. Nenek dan kakeknya, Guy dan Nellie Pillsbury sudah tua dan memerlukan perawatan, Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun oleh keluarga ibunya. Setelah kakek dan neneknya wafat, ibunya Ruth bekerja sebagai tukang masak.

Stephen mulai aktif menulis sejak kuliah. Ia mengisi kolom mingguan di surat kabar kampus, The Maine Campus. Lulus dari University of Maine di Orono tahun 1970, sebagai sarjana bahasa Inggris. Sebetulnya, dengan ijazah itu, ia berhak mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Sayangnya, saat pemeriksaan kesehatan selepas wisuda menunjukkan Stephen King mengidap tekanan darah tinggi, keterbatasan penglihatan, kaki yang sedikit cacat dan gendang telinga yang pecah.

Kehidupan Stephen King jauh dari berkecukupan. Meskipun seorang sarjana, ia banting tulang menghidupi istrinya, Tabitha Spruce yang dinikahinya bulan Januari 1971. Stephen bekerja sebagai buruh di binatu. Terkadang, ia mendapatkan pinjaman dari mahasiswa yang dikenalnya. Sesekali, di sela jam kerjanya ia mulai menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke sebuah majalah khusus pria. Dari honor tulisan yang dimuat inilah, Stephen King bisa sedikit menabung, dan tabungannya akan sangat berguna ketika kebutuhan semakin mencekik. Stephen King juga pernah bekerja sebagai pelayan di pompa bensin.

Stephen dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil. Upahnya sebagai buruh binatu, $60 seminggu. Untuk membantu keuangan keluarga, istrinya bekerja di malam hari. Namun, tetap saja mereka hidup kekurangan. Saat anak mereka yang masih bayi terserang infeksi di telinga, mereka tak mempunyai uang untuk biaya pengobatan. Hingga harus menjual beberapa perabotan untuk membeli obat antibiotik.

Stephen King memiliki keinginan sangat kuat untuk menjadi penulis. Setiap malam, dan saat libur di akhir pekan ia mengetik dengan sebuah mesin ketik tua. Sebagian tabungannya digunakan untuk mengirim tulisan ke penerbit dan agen. Tapi, tak ada yang menerima. Semua menjawab, “Tulisan Anda belum memenuhi syarat.” Entah, apakah tulisannya sempat dibaca editor atau tidak. Ia sendiri tidak yakin.

Suatu hari, ia membaca sebuah novel dan teringat pada novel tulisannya sendiri. Ia lalu mengirimkannya pada sebuah penerbit buku milik Thompson. Beberapa minggu kemudian, ia menerima sebuah surat. Bill Thompson sendiri yang menulisnya. Bill menyatakan bahwa naskah yang dikirimkan Stephen King mempunyai banyak kesalahan, namun ia yakin Stephen King adalah seorang penulis yang berbakat. Bill mendorongnya untuk mencoba lagi.

Selama 18 bulan, Stephen King bekerja keras untuk menulis dan terus menulis. Hingga ia berhasil menyelesaikan dua naskah novel dan mengirimkannya ke penerbit milik Bill Thompson tersebut. Sayangnya, naskahnya kembali ditolak.

Penolakan itu tidak mematahkan semangat Stephen King. Ia terus berusaha menyelesaikan lagi naskah novel baru. Tapi, tagihan terus membengkak, kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Ia akhirnya putus harapan, lelah dan tergoda untuk menyerah.

Di malam ke sekian, ia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Esok harinya, istrinya menemukan naskah itu dan mengambilnya.

“Kau tak boleh menyerah, saat keberhasilan telah begitu dekat,” kata istrinya.

Stephen King menatap halaman demi halaman naskahnya. Ia menatapa semangat dan harapan di mata istrinya. Juga harapan dari kata-kata dalam surat Bill Thompson. Setiap hari, dia kembali tekun menulis. Naskah akhirnya selesai dan dikirim kembali ke penerbit Thompson.

Tak diduga, kali ini naskahnya diterima. Penerbit Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah novel horor klasik pertamanya berjudul, “Carrie.” Novel ini kemudian terjual sebanyak 5 juta eksemplar.

Doubleday, penerbit milik Thompson kemudian berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga $400.000. Novel itu semakin dikenal, hingga sutradara sekelas Brian De Palma tertarik memfilmkannya. Tahun 1976, novel ini difilmkan, dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek.

Setelah Carrie, puluhan novel horror Stephen King lainnya laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan novelnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi mendapat pujian sebagai film yang baik. Salem's Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Stephen King menjadi legenda penulis sukses yang meniti karir kepenulisannya benar-benar dari bawah. Bahkan pernah mencapai titik nadir, ketika ia nyaris kehilangan semangat.
Apa rahasia produktivitas Stephen King?

“Saya menulis empat halaman setiap pagi. Saya menulis 2.000 kata setiap hari, kadang-kadang lebih. Tapi, kadang-kadang juga hanya 1.000 kata. Yang penting menulis setiap hari.”

Bagaimana? Siap meneruskan jejak kesuksesan Stephen King? Ingat pesan Stephen King ini, "Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik -sesuai dengan kemampuanmu- kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja."


Referensi:
 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates