Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Proses Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses Kreatif. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

Ketika Kata Berlarian

(Menilik proses kreatif "Wanita di Lautan Sunyi"-nya Nurul Asmayani)
____
 
“Buntu! Bingung mau nulis apa!”
Wah, kalau kalimat itu diungkapkan oleh para penulis, benar-benar masalah besar.

Jika diibaratkan penulis adalah seorang tentara, maka kata-kata adalah senjatanya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika tentara kehilangan senjata? Dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk menjalankan tugasnya. Heuheu.

Pernah mengalami?

Saya pernah. Sering bahkan :(

Dulu, kalau saya terserang “penyakit” ini, ya sudah … saya berhenti dulu menulis. Percuma saja memaksakan diri. Tapi, bagaimana kalau tulisan itu harus segera selesai dalam jangka waktu tertentu. Ada tenggat waktu yang ketat. Saya harus benar-benar “memaksa” otak, menelisik kata yang sedang bersembunyi, entah di mana.

Salah satu yang biasanya saya lakukan ketika mengalami kebuntuan itu adalah membaca. Membaca apa saja. Saya mengambil salah satu buku di rak buku, secara acak. Lalu membuka halaman-halamannya secara acak juga. Halaman berapa pun yang terbuka, halaman itulah yang harus saya baca.

Dan … keajaiban terjadi.

Saat itu, saya baru saja akan memulai menulis novel “Wanita di Lautan Sunyi.” Plot dan alur sudah saya susun rapi. Begitu juga karakter tokoh, setting, konflik dan seterusnya. Semua unsur intrinsik yang harus ada dalam sebuah novel sudah saya rancang. Tapi … saya belum bisa menulis juga. Bingung, mau mulai dari mana? Kalimat apa yang harus saya tuliskan sebagai pembuka? *garuk-garuk kepala*

Secara acak, tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hitam, judulnya “Atlas Sejarah Nabi Muhammad saw. dan Khulafaur Rasyidin.” Kebetulan, tangan saya memang menjangkau bagian rak buku yang berisi buku-buku sejarah semuanya. Saya kaget juga, kenapa buku ini yang saya ambil? Apa hubungannya antara novel yang akan saya tulis dengan sejarah? Tapi, ya … saya memang enggak boleh milih. Aturan itu kan saya sendiri yang membuat. :p
 Cover buku Atlas Sejarah dan Novel saya "Wanita di Lautan Sunyi"

Saya buka halamannya secara acak, dan terbukalah halaman 36-37.  Saya baca terus, hingga sampai di paragraf kedua, halaman 37. Di sana tertulis sebuah peribahasa Arab yang berbunyi:

“Inkunta riihan faqad laa qaita i`shaaran.”

“Jika dirimu adalah angin, boleh jadi engkau akan bertemu badai.”
Ini isi halaman 37, paragraf ke-2.


Dzing! #$%

Seolah-olah ada embusan angin yang meniup tengkuk saya. Saya merinding. Memori akan Sangkulirang yang berada di tepi laut membayang cepat. *FYI, Sangkulirang adalah tempat yang saya jadikan setting novel “Wanita di Lautan Sunyi.* 
Otak saya sepertinya langsung bekerja cepat, berbagai peristiwa di dalam calon novel saya membayang-bayang di depan mata. Sang tokoh akan mengalami ini dan itu. Lalu si ini begitu, dan seterusnya.

Gegas saya duduk di meja kerja dan membuka laptop. Saya sudah menemukan “AHA!” saya.

Harus segera ditulis, sebelum kilatan-kilatan itu padam dan saya kehilangan. Alhamdulillah, kalimat pembuka sudah saya dapatkan dan Allah membuat jemari saya lancar menari di atas tombol-tombol huruf di laptop.

Apakah ini kebetulan? Izinkan saya memaknai ini sebagai bentuk pertolongan Allah. Ilham dan petunjuk-Nya. Saya yakin, tak ada yang kebetulan di dunia.

 Peribahasa Arab tadi saya jadikan pembuka di bab satu
Apakah saya pernah “gagal”? Tetap mengalami kebuntuan menulis padahal sudah melakukan cara ini? Mengambil buku, membuka halaman secara acak, lalu membacanya. Tetapi, “AHA!” itu tidak juga saya temukan. Oh, pernah juga. Pernah. Tetapi, setidak-tidaknya saya tetap dapat pengetahuan baru dari apa yang saya baca. Jadi, tetap tak ada yang sia-sia, kan. Teuteup, hahaha  ;)

 
Ah, kalau penasaran. Ayo dicoba saja. Siapa tahu teman-teman juga bisa merasakan “sensasi indah” ketika menemukan “AHA!” ini. Masya Allah. Merinding disko, ruar biasa! 

"Wanita di Lautan Sunyi"
Penerbit: Quanta-imprint Elex Media Komputindo
Harga: Rp54.800
Beredar April 2014
Beli ya  ;) 
 ______________
sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/2014/04/ketika-kata-berlarian.html

Sabtu, 12 April 2014

Jejak Yang Tertinggal

Sebuah Proses Kreatif Nurul Asmayani

Menulis adalah aktivitas yang selalu lekat dalam kehidupan saya. Saya menulis apa pun, di mana pun, namun lebih banyak saya nikmati dan baca sendiri. Lalu, mulai kurun 2002 hingga 2003 saya baru berani mempublikasikan karya saya untuk dinikmati orang lain. Saya mengirimkan beberapa cerita pendek yang saya tulis ke sebuah majalah remaja Islami, "Annida". Beberapa ditolak, beberapa lolos dan terbit. Terakhir, sebuah cerita pendek saya menjadi kisah utama di majalah tersebut. Cerita berlatar belakang suasana Aceh, yang saya beri judul "Membunuh Malam".

Pertengahan 2004, saya menjadi ibu. Anak sulung saya lahir, dan saya benar-benar konsentrasi mengurus anak dan rumah. Saya berhenti mengirim tulisan ke majalah. Meskipun desakan itu kadang menggoda saya.
Tahun 2005 sebuah kesempatan lomba menulis novel datang. Saya tak sanggup menampik godaan itu. Maka, mulailah saya mengobrak-abrik buku diary dan block note saya yang berisi plot novel. Membongkar beberapa catatan kecil tentang apa yang ingin saya tulis. Serta beberapa buku lama yang sudah lecek karena bolak-balik saya baca dan bawa tidur :p

Akhirnya, lahirlah sebuah novel dengan setting Batavia di tahun 1920-an. Tentang perjuangan seorang muslimah mempertahankan keyakinannya. Alhamdulillah, novel itu berhasil menjadi juara kedua (juara satu tidak ada) di sebuah penerbit Islam, tahun 2005. Sekali saya diminta mengedit, namun akhirnya urung diterbitkan. Saya mengerti, mungkin menerbitkan novel dengan tema semacam itu tak menarik dan tak menjual. Novel sejarah dengan tema yang sedikit sensitif. Heu...

Dan, waktu terus berlari meninggalkan saya. Saya melahirkan anak kedua, asyik menikmati zona nyaman saya. Sesekali saya masih menulis cerpen, terkadang puisi. Membaca buku, mencatat ide dan beberapa hal penting di diary dan block note. Masih seperti dulu. Namun saya tak lagi mengirimkan karya ke media.
Terkadang, muncul kerinduan untuk menerbitkan karya lagi. Tapi, desakan itu terkalahkan oleh kesibukan lain di depan mata yang seakan tak ada habisnya.

Lalu, tahun 2009 saya punya facebook. Dan...saya terkesiap! Oh, ke mana saja saya?
Lihatlah, semua orang seakan berlari. Mereka yang terus berproses semakin melesat dan sudah berada di depan. Sementara saya, jauuuuuh tertinggal *nunjuk hidung sendiri*. Semuanya melecut saya. Saya menyadari saya mencintai menulis, tapi saya belum menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari diri saya.

Tahun 2009 itu saya berjumpa dengan mba Ifa Avianty dan teman-teman sekelas di IWS (Hai Fitri, Yanti, Teh Vienna, Mba Ade, Irma, Bu Yani, Danu-satu-satunya makhluk cowok di kelas, Luluk, Genny, Aisy, Teh Anne, dan IWS-ers lainnya). Semua melecut saya untuk belajar lagi menulis. Terseok-seok, terpeleset dan jatuh berkai-kali.

Tahun 2010 novel saya selesai ditulis atas bimbingan dan support ibu guru yang luar biasa. Saya memberanikan diri mengirim ke sebuah penerbit. Hasilnya sukses ditolak. Hahaha :))

Di tahun 2010 juga saya kecanduan ikut semua lomba dan audisi antologi. Lomba buku gratisan di penerbit saya jadikan ajang mempelajari buku yang diterbitkan penerbit tersebut. Lomba resensi, lomba tag foto hingga lomba menulis kisah inspirasi. Menang beberapa, kalah banyak banget. Lolos audisi ada, gagal huhu bejibun. Semuanya saya nikmati, sebagai sarana belajar bagi tubuh dan mental saya.

Saya tahu, jam biologis tubuh saya harus dibiasakan dan dibangun pelan-pelan. Jika siang saya harus mengurus anak dan rumah (saya ibu 3 anak kecil, tanpa pernah mempunyai ART), jauh dari keluarga dan siapa pun yang diharapkan bisa membantu pekerjaan domestik. Maka, waktu menulis saya hanya malam hari. Saat pekerjaan rumah sudah selesai, anak-anak sudah tidur. Tahun 2010 benar-benar tahun pembelajaran. (Curhat saya ada di sini nih :p  http://www.facebook.com/note.php?note_id=402677528880 )

Hasilnya beberapa antologi saya terbit. Alhamdulillah. Dan, menjelang tutup tahun 2010 sebuah proposal saya diterima sebuah penerbit yang saya impikan. Calon buku saya diterbitkan oleh B First (imprintnya Bentang Pustaka). Allah mengabulkan doa dan mimpi saya. Akhir tahun saya mengantongi 1 SPP buku solo. Sesuatu banget, mengingat siapa sih saya ini?

Pengerjaan buku solo pertama ini juga benar-benar penuh kenangan. Saya hanya diberi waktu 22 hari. Maka malam-malam saya terisi dengan begadang dan begadang. Alhamdulillah, tubuh saya sudah terbiasa begadang saat mengejar DL lomba dan antologi bulan-bulan sebelumnya.

Saat  Ramadhan 2010 saya harus pulang ke Indonesia, kepala saya masih dipenuhi dengan agenda penyelesaian buku ini. Ketika rumah kecil saya dipenuhi keluarga yang datang menginap (23 orang dewasa dan anak-anak. Whoaaa), saya harus betul-betul bergerilya. Saat semua lelap di mana-mana. Di kamar, di ruang tamu, di ruang tengah (kecuali dapur kecil), mengendap saya menyalakan laptop dan duduk. Hanya berteman cahaya remang dari lampu dapur saya menulis. Baru saja menyalakan lampu, saya ditimpuk bantal. "Oy, silau!". Jiahhh, jadilah buku ini saya selesaikan dalam kegelapan.Hahaha

Alhamdulillah, deadline berhasil saya kejar. Tepat waktu.

Februari 2011, beberapa hari sebelum saya kembali ke Jepang. Buku solo saya "Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang" diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya. Editor saya tercinta bahkan menyempatkan hadir ke Banjarbaru, tempat tinggal saya.


Jika 2010 adalah tahun pembelajaran. Maka, tahun 2011 adalah tahun membangun pondasi bagi saya.
Tahun 2011 saya tak lagi ikut lomba-lomba menulis yang banyak bertebaran di facebook. Dengan sedikit waktu untuk menulis yang saya miliki, maka saya harus punya prioritas dan fokus. Di tahun ini, sebuah outline saya diterima untuk proyek pengadaan buku pemerintah (proyek DAK). Buku berseri tentang character building, 5 buah buku. Alhamdulillah. Sujud syukur dan gemetar saya saat itu. Lima buku sekaligus? Allahu Akbar!

Pada titik inilah, saya bertemu dengan Teh Indari Mastuti. Seorang bunda serba bisa yang selalu menebarkan semangat. Di tengah pengerjaan 5 buku itu, Jepang diguncang gempa besar berkekuatan 9 magnitudo. Masya Allah! Disusul meledaknya PLTN di Fukushima. Belasan gempa susulan mengguncang kami dalam sehari. Tidur tak pernah nyenyak. Ditambah, air keran tak bisa dikonsumsi karena tercemar. Siang hari setelah gempa besar itu kami lalui dengan aktivitas mengantri di supa. Membeli air mineral dan beberapa makanan instan sebagai persiapan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Editor yang akan menerbitkan buku character building tersebut mengirim email ke saya. Mengirimkan doa dan semangat. Makasih Mba. Sangat berarti bagi saya. Namun, email itu kemudian saya balas dengan permohonan maaf. Saya ingin mengundurkan diri dari pengerjaan buku ini. Saat bumi Jepang masih bergoyang, putri kedua saya sakit. Pencernaannya terserang virus, muntah dan diare berat. Saya tak bisa konsentrasi mengerjakan buku, dalam kondisi anak sakit dan gempa susulan yang masih terus berlanjut.

Pengunduran diri saya diterima. Namun, beberapa hari kemudian saya menerima email lagi yang menyatakan konsorsium penerbitnya meminta buku ini diteruskan. Deadline diperpanjang. Dengan bismilllah, akhirnya saya terima. Namun, di saat yang sama saya terserang virus seperti yang menyerang anak saya. Diare berat, muntah, dan sangat lemas. Tapi saya sudah menyanggupi, dan tak mungkin menyatakan mundur lagi.
Pelan, buku itu saya selesaikan. Pengalaman pertama menyelesaikan lima buah buku dalam satu bulan. Ya Allah, nggak kebayang sebelumnya. Saat itu pula saya dapat kesempatan menimba ilmu pada editor yang baik hati dan tak pernah pelit membagi ilmu. Mba Anna Farida *wink wink ke Mba Anna* Meskipun kadang komen Mba Anna menguliti saya *lebay :p* Tapi saya senang. Kekurangan tulisan saya dibedah dan dikomen habis-habisan. Uhuy deh rasanya. Mengerjakan buku terakhir, kami begadang bersama sambil chatting di YM biar tidak mengantuk. Beliau mengedit, saya meneruskan menulis dengan sisa nafas. Heu...Selalu saya kenang loh Mba. Ingat komennya Mba Anna waktu itu. "Gila yah!" Satu buku lagi, dan waktu yang tersisa hanya beberapa hari. Alhamdulillah, kita bisa ya Mba Anna.

Bulan-bulan berikutnya, saya masih belum bisa fokus 100 % Masih seliweran dengan sisa-sisa pekerjaan di antologi. Hingga tujuh antologi lagi terbit. Pertama antologi Magnitudo 9. Tantang pengalaman kami saat gempa dan tsunami. Kedua, antologi Killer, Nyentrik tapi Asyik. Antologi yang audisinya diadakan tahun 2010. Mengalami dua kali penolakan hingga terbit di Grafindo. Dari antologi ini saya bertemu penulis yang kereeen. Mba Triani Retno yang banyak memberikan ilmu dan tips berharga. Teh Tita, Uni Dian, Lea, Mba Anney, Mba Ochi, Mpok Manda, Nisa, Zoel, dan semuaaaa. Tak ketinggalan kru Grafindo dan Salam Book House yang ramah dan luar biasa.



Ketiga, antologi Semiliar Cinta untuk Ayah yang PJnya Mba Ochi. Keempat, antologi FF Selaksa Makna Ramadhan, dari momen UNSA dan Mas Adi Tiga Tujuh. Kelima, antologi Storycake for Ramadhan yang digawangi oleh Mba Lygia dan IIDN. Keenam,antologi Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri, dikomandani Mba Qonita Musa dan Ayuk Naqiyyah Syam. Alhamdulillah best seller di beberapa Gramedia, beberapa kali diresensi di majalah. Terakhir, antologi "Ya Allah Beri Aku Satu Saja" menutup tahun 2011 dengan manis.


Masih ada beberapa antologi yang saya menjadi PJ masih terus saya perjuangkan insya Allah. Beberapa antologi yang tulisan saya ikut lolos di dalamnya, juga masih menunggu berjodoh dengan penerbit.

Memasuki tengah kedua tahun 2011 saya mulai fokus lagi. Mulai menabung tulisan, menabung proposal, menabung ide. Saya berhasil menyelesaikan 2 buah kisah kepahlawanan untuk anak, pesanan sebuah penerbit besar (lewat agency). Membongkar buku dan referensi yang terkadang bahasanya tidak saya mengerti (terpaksa mengandalkan google translate :p). Alhamdulillah, saya juga dapat kesempatan menimba ilmu di kelasnya Kang Ali Muakhir. Bertemu dengan teman-teman sekelas yang lucu dan hebat semua. Mba Ayu, Mba Indah, Mba Era, adinda Gesang, semuaaa. Dapat kesempatan juga mengeroyok seri kamus Indonesia di IIDN. Saya menyumbang tulisan kecil untuk memperkenalkan pantai di Kalimantan Selatan dan sasirangan.

Alhamdulillah, memasuki November 2011, 4 proposal naskah saya diterima oleh sebuah penerbit besar (lewat agency naskah).Novel berlatar sejarah Jepang berhasil saya selesaikan, pertama kali menyelesaikan sebuah teenlit (keduanya masih saya endapkan dan insya Allah akan segera saya edit).
Dan satu proposal naskah yang saya tawarkan sendiri di sebuah penerbit besar juga diterima. Alhamdulillah. Gemuruh rasa syukur saya. "Ya Allah, nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan?"
Saya bertemu dengan orang-orang luar biasa sepanjang tahun-tahun lalu. Yang memberikan banyak hal berharga, ilmu, persaudaraan, semangat, cinta. Terima kasih semua, yang telah mengantarkan saya hingga sampai di titik ini.

Itulah jejak yang sudah saya tinggalkan di tahun-tahun lalu.
Insya Allah, terus berusaha dan berdoa agar Allah berikan kesempatan dan kemampuan untuk semakin baik di tahun berikutnya. Aamiin.

Sumber : http://nurulasmayani.blogspot.com/search/label/Catatan
 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates