Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Best seller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Best seller. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

[Resensi] Membaca Seribu Bulan, 360 Kisah Keajaiban Al-Quran

Tulisan ini diambil dari : http://dewirieka.blogspot.com/2014/03/membaca-seribu-bulan-360-kisah.html
________________
Oleh : Dewi Rieka Kustiantari (Mbak Dedew)
Dear Temans,

Nailah putriku yang sebentar lagi enam tahun, hobi sekali baca. Ia sudah bisa membaca lumayan lancar dan mulai menjadi kutu buku. Buku apa saja dilahapnya mulai dari Ensiklopedi, buku cerita hingga kisah Princess yang jadi favoritnya. Kebiasaan membaca ini bikin adeknya kesal, dan bilang Kak Nai nggak asyik hihi karena jarang mau diajak main bareng kalau sedang asyik baca.

Sudah lama saya mencari buku tentang kisah-kisah dalam Al Quran untuk Nailah. 
Ada beberapa buku rekomendasi teman yang saya beli. Tapi, saat ini belum tertarik dibaca Nailah. Mungkin karena satu cerita masih terlalu panjang untuk anak seusianya. Gaya bahasanya pun agak serius. 

Dan, daku menemukan buku ini.
Judulnya Seribu Bulan, 360 Kisah Keajaiban Al-Quran. Karya seorang teman, Nurul Asmayani. 
Buku ini disusun berdasarkan 12 bulan Hijriah.
Konsepnya sama dengan buku-buku yang beredar saat ini seperti 365 Dongeng Disney dan sebagainya.
Setiap hari satu cerita selama 12 bulan. Kita bisa membacanya dari bulan pertama yaitu bulan Muharram atau secara acak.

Dari segi sampul buku, menarik. Ilustrasinya lucu dipadu tulisan judul yang blink-blink. Menarik minat anak atau ibunya untuk meraihnya di toko buku. Hehe. Tebalnya juga bikin wow. Buku Nurul Asmayani, anggota IIDN yang kini menetap di Jepang ini setebal 495 halaman. Ilustrasi bagian dalam pun menarik. Karya Innerchild Studio yang sudah tersohor terutama untuk buku anak. Saya suka gaya ilustrasi mereka.

Dari segi harga, mungkin agak mengagetkan ibu ya, hehe. Sekitar 198 ribu rupiah.
Tapi, harganya sih menurut saya wajar karena bukunya yang tebal dan padat ceritanya. Penampilan buku juga menarik.

Saya membaca buku ini, setiap cerita ternyata tidak terlalu panjang. Tapi gampang dimengerti karena bahasanya ringan untuk anak seusia Nailah. Ini dia yang saya cari. Buku anak koleksi saya yang bertema serupa, bahasanya agak serius dan membuat Nai mengerutkan kening. Ia jadi bosan membacanya. Hm, disimpan dulu deh. Nanti kalau ia sudah bisa membaca cerita yang lebih panjang bakal dikeluarkan lagi. Hehe.

Uniknya, ada penjelasan tentang setiap bulan dalam penanggalan Hijriah. Misalnya di Bulan Muharram adalah bulan yang haram bagi umat Islam berperang. Adapula peristiwa besar yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dan Abu Bakar ke Madinah. Di setiap cerita juga ditulis ayat Al Quran darimana cerita itu berasal.

"Kak, coba deh baca.."
Saya menyodorkan buku ini dan Alhamdulillah, ia suka.
Kami berdua membacanya, sesekali ia bertanya.

Hore, Buku kesukaan Nailah bertambah satu deh.

Foto pribadi Mbak Dedew

Selasa, 01 April 2014

Serial Motivasi Menulis : Belajar dari Stephen King



Pernah mendengar nama Stephen King? Tentu nama ini tak asing lagi dalam dunia penulis.

Stephen Edwin King, nama lengkapnya. Dilahirkan di sebuah kota kecil Portland, Maine, tahun 1947. Ia adalah anak kedua dari pasangan Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Kedua orang tuanya bercerai saat Stephen King masih balita. Ia dan kakaknya David dibesarkan oleh ibunya. Masa susah mereka alami, ibunya bekerja keras untuk menghidupi kedua putranya.

Saat Stephen berusia 11 tahun, mereka kembali ke kampung halaman ibunya di Durham, Maine. Nenek dan kakeknya, Guy dan Nellie Pillsbury sudah tua dan memerlukan perawatan, Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun oleh keluarga ibunya. Setelah kakek dan neneknya wafat, ibunya Ruth bekerja sebagai tukang masak.

Stephen mulai aktif menulis sejak kuliah. Ia mengisi kolom mingguan di surat kabar kampus, The Maine Campus. Lulus dari University of Maine di Orono tahun 1970, sebagai sarjana bahasa Inggris. Sebetulnya, dengan ijazah itu, ia berhak mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Sayangnya, saat pemeriksaan kesehatan selepas wisuda menunjukkan Stephen King mengidap tekanan darah tinggi, keterbatasan penglihatan, kaki yang sedikit cacat dan gendang telinga yang pecah.

Kehidupan Stephen King jauh dari berkecukupan. Meskipun seorang sarjana, ia banting tulang menghidupi istrinya, Tabitha Spruce yang dinikahinya bulan Januari 1971. Stephen bekerja sebagai buruh di binatu. Terkadang, ia mendapatkan pinjaman dari mahasiswa yang dikenalnya. Sesekali, di sela jam kerjanya ia mulai menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke sebuah majalah khusus pria. Dari honor tulisan yang dimuat inilah, Stephen King bisa sedikit menabung, dan tabungannya akan sangat berguna ketika kebutuhan semakin mencekik. Stephen King juga pernah bekerja sebagai pelayan di pompa bensin.

Stephen dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil. Upahnya sebagai buruh binatu, $60 seminggu. Untuk membantu keuangan keluarga, istrinya bekerja di malam hari. Namun, tetap saja mereka hidup kekurangan. Saat anak mereka yang masih bayi terserang infeksi di telinga, mereka tak mempunyai uang untuk biaya pengobatan. Hingga harus menjual beberapa perabotan untuk membeli obat antibiotik.

Stephen King memiliki keinginan sangat kuat untuk menjadi penulis. Setiap malam, dan saat libur di akhir pekan ia mengetik dengan sebuah mesin ketik tua. Sebagian tabungannya digunakan untuk mengirim tulisan ke penerbit dan agen. Tapi, tak ada yang menerima. Semua menjawab, “Tulisan Anda belum memenuhi syarat.” Entah, apakah tulisannya sempat dibaca editor atau tidak. Ia sendiri tidak yakin.

Suatu hari, ia membaca sebuah novel dan teringat pada novel tulisannya sendiri. Ia lalu mengirimkannya pada sebuah penerbit buku milik Thompson. Beberapa minggu kemudian, ia menerima sebuah surat. Bill Thompson sendiri yang menulisnya. Bill menyatakan bahwa naskah yang dikirimkan Stephen King mempunyai banyak kesalahan, namun ia yakin Stephen King adalah seorang penulis yang berbakat. Bill mendorongnya untuk mencoba lagi.

Selama 18 bulan, Stephen King bekerja keras untuk menulis dan terus menulis. Hingga ia berhasil menyelesaikan dua naskah novel dan mengirimkannya ke penerbit milik Bill Thompson tersebut. Sayangnya, naskahnya kembali ditolak.

Penolakan itu tidak mematahkan semangat Stephen King. Ia terus berusaha menyelesaikan lagi naskah novel baru. Tapi, tagihan terus membengkak, kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Ia akhirnya putus harapan, lelah dan tergoda untuk menyerah.

Di malam ke sekian, ia membuang naskahnya ke keranjang sampah. Esok harinya, istrinya menemukan naskah itu dan mengambilnya.

“Kau tak boleh menyerah, saat keberhasilan telah begitu dekat,” kata istrinya.

Stephen King menatap halaman demi halaman naskahnya. Ia menatapa semangat dan harapan di mata istrinya. Juga harapan dari kata-kata dalam surat Bill Thompson. Setiap hari, dia kembali tekun menulis. Naskah akhirnya selesai dan dikirim kembali ke penerbit Thompson.

Tak diduga, kali ini naskahnya diterima. Penerbit Thompson menyerahkan uang muka $2500, dan lahirlah novel horor klasik pertamanya berjudul, “Carrie.” Novel ini kemudian terjual sebanyak 5 juta eksemplar.

Doubleday, penerbit milik Thompson kemudian berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga $400.000. Novel itu semakin dikenal, hingga sutradara sekelas Brian De Palma tertarik memfilmkannya. Tahun 1976, novel ini difilmkan, dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek.

Setelah Carrie, puluhan novel horror Stephen King lainnya laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan novelnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi mendapat pujian sebagai film yang baik. Salem's Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Stephen King menjadi legenda penulis sukses yang meniti karir kepenulisannya benar-benar dari bawah. Bahkan pernah mencapai titik nadir, ketika ia nyaris kehilangan semangat.
Apa rahasia produktivitas Stephen King?

“Saya menulis empat halaman setiap pagi. Saya menulis 2.000 kata setiap hari, kadang-kadang lebih. Tapi, kadang-kadang juga hanya 1.000 kata. Yang penting menulis setiap hari.”

Bagaimana? Siap meneruskan jejak kesuksesan Stephen King? Ingat pesan Stephen King ini, "Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik -sesuai dengan kemampuanmu- kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja."


Referensi:
 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates